Seorang ibu mertua yang bersikap kolot kerap percaya dengan banyak mitos terkait mengasuh anak. Memiliki keturunan adalah keinginan sebagian besar pasangan yang baru menikah. Segala persiapan dilakukan, mulai dari pembiayaan, kebutuhan masa kehamilan, hingga mempelajari cara mengasuh anak. Segala informasi dicari melalui berbagai media, orang tua, internet, para ahli anak, hingga berbagai artikel ilmiah. 

Setelah itu semua, Anda kini sudah mampu membedakan mana informasi yang hanya sekadar mitos, dan mana informasi yang sudah terbukti secara ilmiah. Sebagai orang tua milenial yang mengedepankan rasionalitas, sudah pasti Anda memilih cara-cara yang sudah terbukti.

Sayangnya, seperti dalam banyak aspek kehidupan lainnya, realitas sering tidak sesuai dengan rencana. Rencana pola asuh anak yang sudah Anda susun bisa saja ditangkis oleh ibu mertua dengan berbagai mitos yang ia percaya. Namun,  konflik terkait pengasuhan anak sering kali muncul pada pasangan yang masih tinggal bersama orang tua/mertua mereka. Apalagi jika ibu mertua masih percaya sekali dengan mitos tentang mengasuh dan merawat anak.

Anda sebagai ibu yang ingin mengasuh dan merawat anak dengan cara-cara yang rasional dan dapat diterima akal, terpaksa harus berhadapan dengan campur tangan ibu mertua yang masih percaya dengan mitos-mitos merawat anak.

Berbagai mitos merawat anak yang dipercaya ibu mertua

Misalnya mitos bayi yang tidak dibedong akan berisiko memiliki kaki yang bengkok. Padahal sebaliknya, terlalu lama membedong bayi justru memiliki risiko seperti perkembangan motorik yang lambat. Situasi seperti ini pasti akan menjadi situasi yang sangat menyebalkan, jika ibu mertua yang keras kepala memaksa Anda untuk mengikuti mengikuti mitos terkait mengasuh anak.

Meskipun Anda sudah mempersiapkan cara-cara merawat dan mengasuh anak yang rasional dan terbukti secara ilmiah, namun nenek–entah itu ibu Anda atau ibu mertua–terus saja berkomentar karena cara Anda tidak sesuai dengan apa yang diyakininya. Belum lagi sikap suami yang cenderung memilih jalan aman dan mendorong Anda untuk menuruti kemauan sang ibu mertua agar ia berhenti mengomel.

Menuruti kemauan sang ibu mertua dan segala mitos mengenai mengasuh anak yang ia bawa pasti akan menghancurkan setiap rencana yang Anda susun. Namun Anda pastinya juga tidak mau untuk memilih ‘jalan perang’, karena hanya akan membuat suasana rumah menjadi tidak menyenangkan.

Lantas bagaimana solusinya? Apakah ada solusi yang membuat Anda tetap bisa menjalankan perawatan dan pengasuhan anak sesuai rencana, tanpa perlu timbul benturan dengan mitos ibu mertua? Memang selama masih tinggal bersama orang tua/mertua sangat penting untuk berkompromi agar tidak terjadi benturan dalam pengasuhan anak.

Berkompromi dengan makanan

Menurut pengalaman bidan Leni Rahayu, makanan sering menjadi hal yang membuat pasiennya berbenturan dengan ibu/mertua. Misalnya dalam kasus ibu baru melahirkan secara caesar, asupan protein tentu sangat penting dalam proses penyembuhan jahitan. Namun menurut kepercayaan orang tua zaman dulu, mengonsumsi protein dari makanan yang berbau amis, seperti ikan dan daging, akan membuat ASI juga berbau amis.

Faktanya, ikan atau makanan laut lainnya justru merupakan makanan terbaik selama menyusui. Kandungan asam lemak omega 3 pada ikan laut penting untuk perkembangan otak bayi, penguatan dinding sel, mencegah jantung koroner, dan mengontrol kolesterol dalam darah.

Untuk memenuhi kebutuhan protein di masa pemulihan pasca operasi dan meningkatkan produksi ASI tanpa harus membuat si ibu mertua rewel karena mitos anak, ibu bisa mengonsumsi 4-5 butir telur setiap harinya. Jika bosan makan telur, Anda bisa mengajak suami untuk makan di luar untuk memenuhi kebutuhan protein tambahan.

Menginsumis daging-daging yang berbau amis akan membuat ASI menjadi amias hanyala salah satu dari sekian banyak mitos tentang merawat anak. Ada mitos lain yang bisa membuat ibu dan nenek berselisih paham soal mengasuh dan merawat anak.

Berkompromi dengan bedong

Masyarakat Jawa atau ibu mertua yang percaya mitos anak yang tidak dibedong berisiko memiliki kaki bengkok. Pernyataan ini sama sekali tidak benar. Meski bedong dapat membuat bayi merasa lebih tenang, namun risiko kaki bengkok karena tidak dibedong tidak terbukti secara ilmiah. Kenyataannya, banyak bayi yang tidak dibedong pada akhirnya memiliki kaki yang tidak bengkok.

Membedong bayi justru menimbulkan risiko, seperti bayi merasa kepanasan, displasia panggul, infeksi pernapasan, dan bahkan sindrom kematian mendadak pada bayi (Sudden Death Infant Syndrome – SIDS). Membedong bayi terlalu ketat dan dalam waktu yang lama ternyata juga berpengaruh pada perkembangan motoriknya.

Meski begitu, kadang ibu mertua masih saja rewel dan mendesak cucunya agar dibedong. Jika sudah seperti itu, turuti saja kemauan ibu mertua agar anak dibedong meskipun itu hanyalah mitos belaka. Namun pastikan bedong tidak terlalu ketat. Selain itu, bedong bayi dalam waktu yang singkat saja, kurang lebih selama 30 menit.

Selain dua contoh tersebut, tentunya masih ada banyak lagi mitos-mitos yang masih dipercaya orang tua zaman dulu yang sering berseberangan dengan pandangan orang tua milenial.

Selain berkompromi, penting juga untuk mengkomunikasikan segala permasalahan dan metode pengasuhan pada suami. Karena bagaimanapun juga, tanggung jawab mengasuh anak tidak hanya terletak pada ibu saja. Suami juga memiliki peran penting dalam pengasuhan. Buatlah kesepakatan dengan suami tentang bagaimana Anda dan pasangan akan mengasuh dan merawat anak.

Jangan lupa untuk membagikan pengetahuan yang Anda miliki seputar mengasuh dan merawat anak, agar suami juga tahu apa yang harus dia lakukan saat terjadi konflik pengasuhan dengan si ibu mertua. Jika ibu merasa frustrasi dan depresi akibat benturan dengan ibu mertua, mintalah bantuan psikolog.

Referensi:

Laman Facebook pengalaman Bidan Leni Rahayu.