Bagaimana jika pasangan ingin menempuh studi di luar negeri? Banyak orang melakukannya karena ingin mencari pengalaman baru, mengenal budaya lain, mencari kualitas pendidikan yang lebih tinggi, hingga menempuh bidang studi yang tidak tersedia di negara asalnya.

Pengalaman menempuh studi di luar negeri merupakan sebuah pilihan penting yang memiliki efek besar terhadap kualitas diri, pola pikir, hingga status sosial seseorang. Kendati demikian, biaya dan sumber daya lainnya yang harus dikeluarkan untuk menempuh studi di luar negeri sangatlah besar. Sehingga jika ada kesempatan beasiswa untuk menempuh studi di luar negeri, pastinya akan diperebutkan oleh banyak orang.

Kendati demikian, keputusan pasangan menempuh studi di luar negeri bukanlah keputusan mudah. Apalagi jika Fams sedang menjalin hubungan serius dengan seseorang. Lebih kompleks lagi apabila Fams sudah menikah dan sudah punya anak.

Jaman sekarang, long-distance marriage (LDM) atau pernikahan jarak jauh menjadi sebuah tren. Hal ini dikarenakan banyak pasangan muda yang memiliki pekerjaan yang mengharuskan mereka untuk bekerja di lokasi terpencil, atau karena harus menempuh studi di lain kota/negara.

Meski ada opsi untuk membawa pasangan ketika menempuh studi di luar negeri, namun banyak hal yang menjadi pertimbangan. Contohnya seperti pertimbangan tempat tinggal, biaya hidup, hingga pekerjaan. Artinya, pasangan yang ikut menemani studi berarti harus keluar dari tempat kerjanya dan mencari pekerjaan baru di tempat tinggal baru di luar negeri. Belum tentu juga ia bisa menemukan pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya.

Andrew Cherlin, seorang sosiolog dari Johns Hopkins University menulis dalam bukunya bahwa pernikahan kini menjadi sebuah simbol status ekonomi. Sayangnya konsep pernikahan berbenturan dengan nilai penting lainnya, yakni konsep kemandirian, perkembangan diri, dan individualisme. Maka dari itu, Cherlin memberikan sudut pandang lain terhadap LDM. Salah satu keuntungan dari LDM adalah munculnya kesempatan untuk mengembangkan diri sendiri sebagai seorang individu ketika hidup terpisah dengan pasangan.

Contoh kasus

Abdul dan Nina adalah pasangan yang sudah menikah selama 2 tahun dan belum memiliki anak dan salah satu dari mereka menempuh studi di luar negeri. Abdul bekerja sebagai manajer di salah satu restoran papan atas di Jakarta. Nina saat ini sedang menempuh studi S2 di salah satu universitas di Australia.

Ketika Nina mendapat kesempatan beasiswa untuk menempuh studi S2 di Australia, ia kebingungan. Pernikahannya yang masih muda membuat ia berpikir dua kali untuk meninggalkan suaminya. Suaminya yang saat itu baru saja naik jabatan membuat Nina meragu untuk membawa suaminya ikut ke Australia. 

Di sisi lain, Abdul mendukung penuh pasangan nya untuk menempuh studi di luar negeri. Diskusi panjang mereka lewati yang bahkan melibatkan orang tua mereka berdua. Kini, Abdul dan Nina selalu bertemu tiap 3 bulan sekali selama seminggu di Jakarta. Abdul dan Nina menabung bersama-sama untuk biaya tiket dan akomodasi lainnya. Terkadang, Abdul mengambil cuti dan menyusul Nina sembari liburan di Australia.

Di sela hubungan LDM mereka, Abdul dan Nina mengaku menemukan perspektif baru. Kesempatan untuk mengembangkan diri muncul tanpa harus mengurangi kualitas hubungan mereka. Sembari merindukan satu sama lain, Abdul semakin fokus ke kariernya dan Nina fokus untuk menyelesaikan studinya secepat mungkin agar bisa menemui suaminya.

Pelajaran yang bisa ditarik dari pasangan yang menempuh studi di luar negeri

Belajar dari Nina dan Abdul, ada 4 kunci dalam hubungan yang bisa dipelajari. Pertama adalah perencanaan. Harus ada perjanjian-perjanjian dan kesepakatan yang harus disepakati sejak awal. Seperti berapa lama sekali akan bertemu, seperti apa konsep pembiayaannya, jadwal video call, dan lain sebagainya.

Kedua adalah komunikasi. Kedua pasangan harus memahami bahwa tiap orang memiliki kesibukan masing-masing. Di tengah kesibukan itu, justru upaya meluangkan waktu untuk menelpon pasangan meski hanya 10 menit, sudah menunjukkan bahwa kita menghargai pasangan untuk bisa meluangkan waktu bagi mereka meski tengah menempuh studi di luar negeri.

Ketiga adalah komitmen dan alasan. Seseorang harus memiliki komitmen dan alasan yang kuat untuk bisa menjalani LDM. Selalu ingatkan diri sendiri, mengapa Anda menjalani ini semua dan demi apa. Perkuat motivasi dan yakinkan diri.

Terakhir adalah sadari bahwa Anda manusia. Manusia tidak luput dari salah. Sadari juga bahwa pasangan Anda juga manusia. Berikan keluwesan bagi satu sama lain untuk mencari kesenangan dan waktu luang untuk memanjakan diri sendiri. Jangan paksakan kehendak.

Ingat bahwa pasangan pergi untuk sebuah tujuan yang baik. Pasangan yang menempuh studi di luar negeri akan mendewasakan pribadi. Sadari bahwa pasangan yang pergi untuk sesuatu yang baik itu layak untuk dipertahankan, dan hubungan yang Anda miliki bisa jadi jauh lebih dewasa dari sebelumnya. Dan tentunya, rasa rindu itu baik untuk dipupuk dan ditanam, hingga saatnya bisa dipanen lagi nantinya.

Referensi

Advice For Those In A Long Distance Relationship When One (Or Both) Of You Have Kids. (2017). Diambil kembali dari Overcomingthedistance.com.

Berlin, O. (2019). 6 Tips for Studying Abroad While in a Committed Relationship. Diambil kembali dari ifsa-butler.org.

Killeen, M. (2017). Long-Distance Marriage: How These Couples Make It Work. Diambil kembali dari Better.net.