Menjadi orang tua memang bukanlah pekerjaan yang mudah, dan kadang membuat kita lepas kendali sampai marah pada anak. Sebagai orang tua kita tahu bahwa sering marah pada anak dapat menimbulkan dampak negatif seperti, anak yang tumbuh menjadi sosok yang kurang percaya diri, atau menjadi anak yang keras kepala.

Namun tekanan hidup seperti, tanggung jawab dengan pekerjaan, tagihan yang belum terbayar, masalah dengan rekan kerja, belum lagi anak yang merengek karena kehilangan mainannya, seringkali membuat kita lepas kendali. Pada akhirnya kita tiba-tiba menghardik bahkan membentak anak dengan nada yang cukup keras.

Jangan khawatir! Dalam banyak hal termasuk dalam mengasuh anak, tidak selalu berjalan mulus. Ada banyak rintangan yang harus dihadapi, seperti dalam mengendalikan emosi. Anda pun tidak sendiri. Hampir semua orang tua pernah hilang kendali hingga tak sadar sampai memarahi anak-anaknya.

Orang tua marah karena dipicu pengalaman masa lalu

Pada dasarnya, baik orang tua maupun anak-anak sendiri memiliki potensi untuk memicu amarah satu sama lain. Fenomena dimana baik orang tua atau anak menjadi pemicu kemarahan satu sama lainnya disebut dengan istilah ghosts in the nursery. Ghosts in the nursery merupakan istilah yang muncul dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Selma Fraiberg, Edna Adelson, dan Vivian Shapiro, tentang hubungan ibu dan bayinya. 

Fenomena tersebut mengacu pada peristiwa dimana anak-anak merangsang perasaan yang pernah muncul di masa kecil para orang tua. Perasaan tersebut kemudian mendorong orang tua secara tidak sadar memberikan respon sesuai yang pernah dia rasakan di masa kanak-kanak, seperti rasa takut dan amarah.

Marah pada anak membuat orang tua tampak sangat menyeramkan

Kemarahan orang tua bisa sangat menyeramkan bagi anak-anak. Bayangkan saja, saat ada seseorang baik itu suami, istri, maupun orang yang masih sebaya dengan kita marah. Situasi seperti itu pasti memunculkan perasaan yang tidak nyaman dalam diri kita, baik itu hadir dalam bentuk perasaan takut, maupun jantung yang tiba-tiba berdebar dengan hebat.

Itu masih belum seberapa jika dibandingkan apa yang dirasakan oleh anak. Ketika orang tuanya marah, dia menghadapi sosok yang dari ukuran saja jauh lebih besar daripada dirinya. Belum lagi sosok orang tua adalah satu-satunya tempat bergantung sebelum bisa mandiri. Pastinya rasa seram yang dirasakan anak akan kemarahan orang tua jauh lebih besar daripada kita saat menghadapi amarah dari suami maupun istri.

Belum lagi jika anak harus menerima kekerasan fisik, seperti tamparan maupun pukulan bisa membekas sampai anak tumbuh dewasa. Memarahi anak sampai melakukan kekerasan fisik akan membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang yang kurang peduli dengan lingkungan sekitar, atau tumbuh menjadi pribadi yang kurang percaya diri.

Ketika kita dilanda kemarahan hormon otot-otot menjadi tegang, denyut nadi semakin intens, pernapasan Anda menjadi lebih cepat. Mustahil untuk tetap tenang di titik-titik itu, tetapi kita semua tahu bahwa membentak atau memukul anak-anak sebenarnya bukan hal yang ingin kita lakukan.

Mengendalikan emosi dengan berbagai cara sering disarankan agar kita sebagai orang tua bisa mencegah kemarahan meledak pada anak. Lalu bagaimana jika hal itu terlanjur terjadi? Bagaimana cara memperbaikinya?

Jika terlanjur kehilangan kesabaran dan kelepasan memarahi anak, masih ada kesempatan bagi Anda untuk memperbaikinya.

1. Minta maaf setelah marah pada anak

Akui kesalahan Anda dan minta maaf pada anak dengan nada yang tenang. Katakan bahwa Anda tidak pernah bermaksud untuk memarahi atau membentak si kecil. Anda bisa mengatakan, “Maaf ya, nak. Ayah dan Ibu jadi terbawa emosi tadi dan membentakmu.”

Selain itu, memulai dari diri sendiri untuk meminta maaf juga dapat mengajarkan anak tentang pentingnya minta maaf ketika mereka berbuat salah.

2. Beri anak penjelasan ketika emosi sudah mereda

Ketika Anda marah, anak tidak akan sepenuhnya mengerti apa yang Anda katakan. Jadi setelah meminta maaf, pastikan bahwa emosi Anda telah mereda dan ajak anak untuk memulai kembali percakapan dari awal, tanpa luapan emosi atau bentakan.

3. Jangan paksakan diri untuk bicara ketika marah

Apabila Anda tidak berhasil menenangkan diri, jangan memaksakan diri untuk melanjutkan percakapan. Ambil jeda sesaat sampai segala ketegangan mereda. Sembari menenangkan perasaan, Anda bisa melakukan kegiatan lain seperti membaca buku, mendengarkan musik, ataupun melakukan pekerjaan rumah. Setelah itu, lanjutkan kembali pembicaraan Anda dengan anak.

4. Tunjukkan cinta Anda pada anak

Sehabis dimarahi, anak pastinya akan merasa takut, kecil hati, dan kadang seperti merasa tidak diinginkan. Pada titik ini, penting bagi Anda untuk mengingatkan anak bahwa Anda mencintai mereka dan Anda hanya sedang merasa lelah dan penuh emosi.

Pada akhirnya, orang tua juga manusia. Ada saatnya bisa mengendalikan emosi, namun ada juga saat dimana orang tua juga bisa lepas kendali sehingga harus membentak dan marah pada anak. Meski begitu, selalu ada cara untuk memperbaiki situasi itu. Namun usahakan untuk tidak sering memarahi anak.

Referensi:

Aha! Parenting. How to Handle Your Anger at Your Child.