Ketika anak autis Anda mulai tantrum, pastinya Anda pusing dibuatnya. Bayangkan anak Anda berteriak keras, memaki-maki, berguling-guling di lantai, hingga membanting barang-barang, bahkan sampai memukul dan menjambak rambut Anda.

Bingung? Sudah pasti. 

Stres? Bisa jadi.

Ikut marah? Tunggu dulu.

Ketika anak penyandang autisme mulai bertingkah tidak rasional dan meluapkan amarahnya, ada baiknya Anda tidak tergesa-gesa dalam meresponnya. Karena ketika hal ini terjadi pada anak autis, terdapat 2 kemungkinan—apakah ini tantrum (luapan kekesalan) biasa atau sensory meltdown? Sebelum menentukan cara mengatasinya, ada baiknya orang tua lebih dahulu tahu apa akar permasalahannya.

Membedakan antara tantrum dan sensory meltdown

Meskipun perilaku yang muncul nyaris sama, namun dua hal ini adalah hal yang sangat berbeda. Tantrum adalah luapan emosi yang terjadi ketika anak autis mencoba untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan, seperti mainan mobil-mobilan, es krim, atau sekedar ingin diperhatikan oleh orang tuanya.

Anak yang memiliki masalah dalam belajar atau kesulitan fokus biasanya lebih rentan melakukan tantrum. Tantrum biasanya dilakukan karena alasan tertentu dan dengan sengaja. Anak autis akan berhenti melakukan tantrum ketika ia mendapatkan apa yang ia mau, atau ketika ia sudah terlalu lelah dan menyadari bahwa tantrum-nya tidak menghasilkan apa-apa.

Lain hal dengan tantrum, sensory meltdown merupakan kondisi yang lebih serius, terutama pada anak autis. Sebuah sensory meltdown terjadi ketika anak merasa terlalu kewalahan dengan segala stimulus yang ada di sekelilingnya. Misalnya kerlap-kerlip cahaya, suara yang terlalu bising, atau hal lainnya yang membuat anak tidak nyaman.

Berbeda dengan tantrum, sensory meltdown terjadi di luar kehendak si anak. Apabila tantrum terjadi karena anak menginginkan sesuatu, sensory meltdown terjadi karena reaksi anak akan hal tertentu dan bukanlah hal yang disengaja.

Mengatasi tantrum pada anak autis

Anak penyandang autisme cenderung sulit untuk mengontrol emosi, frustasi, maupun berkomunikasi, apalagi ketika amarahnya meluap. Pertama-tama, orang tua tidak boleh ikut menjadi marah. Nada bicara, bahasa tubuh, serta tindakan fisik yang berbentuk negatif atau kasar akan meninggalkan luka yang membekas pada anak, dan tidak akan berujung pada hasil yang positif. Jika perlu, berikan respon seminim mungkin, baik itu respon verbal maupun fisik.

Kedua, untuk mencegah tantrum anak autis, Anda bisa menerapkan metode proaktif. Misal Anda mengajak anak Anda ke supermarket. Sebelum masuk, beritahu anak bahwa Anda hanya akan membeli satu barang tertentu saja, lalu keluar lagi. Dengan begitu, anak paham bahwa ada tujuan yang harus dicapai.

Ketiga, perhatikan emosi anak—bukan kata-katanya. Tantrum biasanya terjadi karena emosi tertentu, sedangkan kata-kata hanyalah instrumennya. Seringkali anak berkata, “masa bodo!” ketika ia sudah kelewat kesal. Padahal terkadang anak masih menunggu apa yang akan Anda lakukan.

Keempat, jangan pernah menerapkan sarkasme pada anak autis. Misalnya ketika Anda menegur anak dengan kalimat, “Sudah berapa kali ayah bilang?!” jangan heran ketika anak Anda menjawab, “tiga kali.” Banyak orang tua yang marah karena merasa anak berlaku sok pintar. Padahal, anak cuma merespon sebuah pertanyaan dan memberikan jawaban.

Terakhir, jangan memberi anak nasihat dalam bentuk larangan ketika anak autis mengalami tantrum. Ketika pikiran anak penuh akan luapan emosi, sulit bagi anak untuk berpikir apa yang harus dilakukan. Ketika Anda berkata pada anak, “jangan lakukan ini! Jangan lakukan itu!” anak harus berpikir keras untuk menentukan apa yang sebaiknya dilakukan. Cobalah untuk mengganti larangan dengan perintah. Beri tahu anak secara spesifik dan jelas mengenai apa yang Anda ingin ia lakukan. 

Metode alternatif mengatasi luapan emosi anak autis

Banyak metode alternatif yang hadir untuk mengurangi kebiasaan anak meluapkan emosi secara tidak rasional. Maria Novitawati, seorang psikolog, mengungkapkan bahwa seni memiliki banyak manfaat untuk para penyandang autisme guna mengekspresikan diri mereka. Maria mengemukakan hal ini melalui metode art therapy, yakni terapi kejiwaan yang menggunakan kesenian sebagai medianya, salah satunya seni lukis.

Anak autis yang memiliki kesulitan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain bisa menemukan cara untuk mengekspresikan dirinya dan mengatasi tantrum melalui melukis. Ditambah lagi, melukis dapat melatih ketelitian, genggaman tangan, memvisualisasikan imajinasi, perasaan, dan ide-ide liar yang tak bisa diungkapkan lewat kata-kata.

Salah satu sekolah untuk anak berkebutuhan khusus di bilangan Bintaro, Jakarta Selatan, menggunakan metode kerajinan tangan untuk menenangkan anak yang tantrum. Anak-anak penyandang autisme diajak untuk membuat benda-benda yang membutuhkan konsentrasi untuk membuatnya, seperti kalung manik-manik dan tasbih. Metode ini dipercaya mampu mengarahkan energi anak ke hal yang positif. Kegiatan membuat kerajinan yang repetitif ini justru efektif untuk anak autis yang mudah terdistraksi.

Ketika anak mengamuk, dunia terasa berguncang, layaknya letusan gunung berapi atau badai angin ribut.  Kadang kala, Anda hanya butuh sedikit bersabar dan menunggu langit cerah kembali.

Referensi

Mutiah, D. (2019, October 2). Terapi Menenangkan Anak Autis Lewat Meronce Tasbih. Diambil kembali dari Liputan 6: https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4076276/terapi-menenangkan-anak-autis-lewat-meronce-tasbih

Nailufar, N. N. (2019, July 6). Khasiat Melukis bagi Anak Autis, Ruang Ekspresi Hingga Kurangi Tantrum. Diambil kembali dari Kompas.com: https://sains.kompas.com/read/2019/07/06/193411723/khasiat-melukis-bagi-anak-autis-ruang-ekspresi-hingga-kurangi-tantrum

Novick, B. (2006). How Can I Help My ASD Child Better Control Tantrums. Diambil kembali dari Autism Parenting Magazine: https://www.autismparentingmagazine.com/asd-child-better-control-tantrums/