Kemampuan bicara bayi berkembang dengan tempo yang berbeda. Orang tua pasti akan sangat senang saat melihat bayi sudah mulai belajar duduk, merangkak, atau bahkan berjalan. Banyak orang tua yang mendokumentasikan momen-momen ketika bayinya belajar duduk, merangkak, dan berjalan.

Keterampilan seperti duduk, merangkak, dan berjalan merupakan tonggak utama dalam perkembangan motorik anak di tahun-tahun pertamanya.

Mengembangkan keterampilan motorik akan membuat anak menjadi semakin mandiri. Dia akan lebih terampil dalam menguasai berbagai gerakan yang akan menunjang akitivitasnya kelak, seperti berjalan, menuruni tangga, menggunakan alat makannya sendiri, dan menyikat giginya sendiri.

Keterampilan motorik juga memiliki andil yang cukup besar terhadap perkembangan kognitif anak, seperti saat kemampuan bicara. Berbicara merupakan salah satu keterampilan bayi dalam berbahasa selain menulis, mendengarkan, dan membaca.

Proses bayi belajar kemampuan bicara

Pada bayi, belajar berbahasa melibatkan sebuah proses yang panjang. Sebelum bisa mengucapkan kata-kata, bayi harus menguasai kemampuan untuk menggerakkan mulutnya. Keterampilan untuk menggerakkan mulut dan area sekitarnya sebenarnya sudah dimulai ketika bayi mulai menyusu ke ibunya. Saat menyusu, bayi menggunakan setiap bagian mulut, yang meliputi bibir dan lidah, untuk dapat mengisap susu dari puting ibunya.

Gerakan mengisap susu ini menjadi langkah awal dalam belajar menggerakkan mulut sebelum bayi bisa menggumam, mengucapkan kata sederhana, hingga berbicara dengan kalimat sederhana yang utuh.

Pencapaian bayi dalam tonggak kemampuan berbahasa ini biasanya diiringi oleh perubahan kebiasaan dalam gerakan motoriknya. Contohnya saat mengoceh, yakni saat bayi mengucapkan suku kata yang sama secara berulang-ulang seperti “babababa“. Beberapa minggu sebelum bayi mulai mengoceh, dia biasanya menunjukkan banyak gerakan lengan, seperti guncangan atau lambaian. Kemudian setelah bayi mulai mengoceh, kebiasaan untuk menggerak-gerakkan lengan berangsur mulai berkurang seiring dengan semakin seringnya bayi mengoceh.

Kemampuan berbicara anak juga dipengaruhi oleh kemampuan anak untuk menggerakkan bagian-bagian organ mulutnya, yakni bibir dan lidahnya. Dengan kata lain, selain melibatkan aspek kognitif, berbicara juga melibatkan aktivitas motorik. Aktivitas motorik yang dimaksud adalah koordinasi otot-otot di dalam dan di sekitar mulut untuk menghasilkan karakter berbicara yang berbeda-beda.

Berbicara dan bersuara

Saat bayi pertama kali mengeluarkan suaranya, biasanya hanya akan terdengar bunyi-bunyian seperti “er”, “woo”, “oh” dan bunyi-bunyi vokal, “a”, “i”, “u”, “e”, “o”. Untuk dapat memproduksi bunyi-bunyi semacam itu diperlukan gerakan bibir yang berbeda-beda.

Karena kemampuan bicara juga berkaitan dengan kemampuan menggerakkan mulut dan sekitanya, penting bagi orang tua untuk melatih otot mulut bayi. Melatih otot dan rahang bayi dapat dilakukan dengan membiarkan anak makan sendiri. Saat makan sendiri, bayi akan mengira sendiri seberapa lebar ia harus membuka mulut untuk memasukkan makanannya sendiri. Pengulangan Gerakan ini akan melatih bayi untuk membuka mulut dengan lebar yang berbeda-beda.

Selain itu, orang tua juga bisa mengajak bayinya untuk berkomunikasi sambil menjaga kontak mata. Saat berbicara ke bayi Anda, usahakan untuk menatap wajah bayi. Saat Anda mengajak bayi berbicara sambil memperhatikan wajahnya, bayi juga akan memperhatikan wajah Anda. Bayi akan memperhatikan gerak bibir Anda dan belajar berbicara melalui aktivitas ini.

Referensi:

Theconversation.com. 29 Mei 2015. Early motor skills may affect language development.

Leomagan.com. __. What you need to know about your child’s speech as a fine-motor skill.