Kedekatan orang tua dan anak, tentu berbeda dari satu keluarga dengan keluarga lainnya. Standar yang sama tidak dapat menjadi pedoman. Kawan saya misalnya, Bapak Ferdy IMaos yang memiliki anggapan Ayah akan lebih mudah dalam menjalin hubungan dengan anak lelaki dari pada ayah dan anak perempuannya. Alasan Pak Ferdy ini, misalnya terkait hobi yang sama.

Tentu apa yang dipotret Pak Ferdy akan berbeda dengan apa yang saya potret dalam kehidupan saya. Saya melihat bagaimana dalam lingkaran keluarga besar saya, yang kebetulan anggota keluarga didominasi lelaki, justru kedekatan anak lelaki pada Ibunya. Sebaliknya, anak perempuan akan lebih dekat kepada ayahnya. Nah, bagaimana dengan keluarga Om Om sekalian?

Setelah saya menikah, dan kemudian dikarunia seorang anak perempuan. Saya memahami mengapa ayah dan anak perempuannya akan lebih dekat. Begitu pula Ibu dengan anak lelakinya. Walau mungkin saja apa yang saya rasakan belum bisa secara pasti sebagai kesimpulan, karena saya baru memiliki anak satu.

Jatuh Cinta Untuk Kedua Kalinya

Setiap orang tua memiliki hak untuk berharap untuk dikarunia anak lelaki atau perempuan. Namun, dalam catatan saya kelahiran anak adalah proses jatuh cinta untuk kedua kalinya. Akan berbeda memang ketika ini melekat pada anak lelaki, yang dalam proses menjadi dewasa akan ada jarak antara ayah dan anak lelakinya. Ayah dan anak perempuannya, akan kian dekat, tanpa ada jarak.

Anak perempuan, bagi saya adalah jatuh cinta untuk kedua kalinya secara utuh, sepanjang waktu. Sejak awal ketika tangis pertama, sejak awal ketika tawa pertama, senyum pertama, kedipan mata pertama. Semua yang pertama dilakukan oleh anak perempuan, adalah jatuh cinta bagi seorang ayah. Jatuh cinta yang melebihi ketika perjumpaan kali pertama dengan seseorang yang kini menjadi istri.

Setiap tumbuh kembang, dari komentar kemiripan wajah anak perempuan yang lebih mirip ayahnya. Bagaimana bercermin dari setiap tingkah laku ayah dari jenis kelamin yang berbeda. Adalah jatuh cinta sekaligus memahami bagaimana sisi feminisme dari diri sendiri yang tercermin dalam diri anak perempuan kita.

Perlakuan Ayah Dan Anak Perempuannya

Ayah memiliki cara sendiri dalam memperlakukan anak-anaknya, baik anak lelaki atau pun ayah dan anak perempuannya. Ketika kita bicara dalam budaya kehidupan kita, maka anak ada hal-hal yang ‘menjadi pakem’ dalam proses mendidik atau menjadi orang tua. Aturan tidak baku, yang dalam masyarakat sudah berjalan adanya.

Pakem seperti; anak lelaki harus begini anak perempuan harus begitu, warna lelaki begini warna perempuan begitu, lelaki boleh perempuan tidak boleh. Banyak aturan tidak baku yang menjadi panduan dalam mendidik anak-anak dari hasil belajar menjadi orang tua yang tidak lain dipengaruhi oleh lingkungan dan budaya sekitar.

Menjadi seorang ayah dalam keluarga, sering kali tidak lepas dari aturan tidak baku tersebut. Namun percayalah, jika menjadi ayah adalah menjadi diri sendiri, jujur kepada diri sendiri, jujur kepada anak-anaknya, termasuk kepada anak perempuan. Itu setidaknya yang saya lakukan.

Jika istri memiliki harapan mengenai karakter anak perempuannya dari sisi ‘feminim’ mungkin saya menjadi kebalikan, memperlakukan anak dari sisi ‘maskulin’. Memperkenalkan bagaimana dunia ayah ‘dunia lelaki’ kepada anak perempuannya. Saya barang kali tipe ayah yang membersamai tumbuh kembang anak tanpa harus memberikan jarak gender; ini khusus lelaki, perempuan jangan begini, dan begitu.

Menjaga Anak Perempuan Sampai Kapan Pun

Ada orang yang beranggapan bahwa; “memiliki anak perempuan adalah cermin ‘kenakalan’ masa muda ayahnya.” Saya tidak setuju dengan anggapan serampangan seperti itu. Orang kemudian akan mengaitkan dengan ketakutan yang berlebih ketika memiliki anak perempuan, sikap ayah yang menjaga secara berlebihan bahkan sampai anaknya beranjak dewasa.

Saya kira, kembali pada pakem dan anggapan umum di masyarakat, mengenai adanya jarak antar gender; lelaki boleh begini dan perempuan tidak. Sehingga ayah akan lebih khawatir melepas anak perempuannya dalam menghadapi dunia. Sedangkan kondisi sebaliknya diberlakukan untuk anak lelaki, ayah lebih ingin anak lelakinya berpetualang dengan segala dinamika yang ada.

Bagi saya, mengapa ayah akan menjaga anak perempuan sampai kapan pun, tidak lain karena ayah dan anak perempuannya memiliki hubungan istimewa. Sebuah hubungan yang tidak dapat dipahami oleh orang lain, tidak dapat dimengerti oleh ibu, dan juga tidak dapat dimiliki oleh anak lelaki.

Hubungan istimewa yang mungkin saja sama, terjadi antara ibu dan anak lelaki, sebuah hubungan yang tidak mudah dipahami oleh seorang ayah tentunya. Jadi, bukan sebuah kekawatiran yang dilandaskan pada asumsi tingkah ‘kurang baik’ dari masa lalu ayah, namun terlebih dari sebuah hubungan yang tidak dapat orang lain ketahui.

Menemukan Hal-hal Aneh Antara Ayah dan Anak Perempuannya

Ayah dan anak perempuannya akan memiliki hubungan istimewa yang tidak akan diketahui oleh anak lelaki. Sebuah hubungan yang tidak mudah untuk dipahami oleh ayah yang belum memiliki anak perempuan. Bagaimana bisa melakukan hal-hal aneh dan rahasia antara ayah dan anak perempuannya, hanya bisa diberikan oleh ayah.

Ibu sering kali memiliki aturan yang mempresentasikan dirinya sebagai seorang perempuan. Maka, anak perempuan akan menemukan kebebasan dan keluar dari pakem ibu ketika menjalin hubungan persekongkolan kecil dalam keluarga. Ada banyak hal, saya tentu tidak akan ceritakan di sini, karena itu rahasia besar lelaki, rahasia besar seorang ayah dan anak perempuannya.

Namun percayalah, dan jika belum percaya coba tanyakan kepada perempuan yang kini di samping kamu, apakah mereka lebih dekat dengan ayahnya? Jika benar, coba tanyakan apa sebab mereka bisa begitu dekat, barang kali kamu akan menemukan rahasia dari hal-hal aneh antara ayah dan anak perempuannya.

Ayah Adalah Lelaki Pertama Anak Perempuan

Jika kelahiran anak perempuan adalah jatuh cinta kedua kali dengan perempuan yang satu jiwa, satu darah, satu nyawa dari seseorang yang kemudian mengikat janji sehidup semati. Maka, ayah bagi anak perempuannya adalah lelaki pertamanya, seorang yang akan dia lihat sebagai sisi maskulin dari dirinya.

Seseorang dengan tampilan dan gender berbeda yang pertama kali dikenali oleh anak perempuan, tidak lain adalah ayah. Sosok yang jauh berbeda dari dirinya sendiri, jauh berbeda dari seseorang yang selalu dekat yaitu ibu. Ayah bisa memiliki karakter ibu dan ayah dalam waktu bersamaan bagi anak perempuan.

Maka, jangan heran jika om om memiliki niatan meminang anak gadis orang, akan diseleksi oleh seorang ayah secara detail. Karena anak perempuan dan ayahnya tidak pernah berdusta. Maka, berhati-hatilah. Sebab meminang anak perempuan, adalah upaya berat untuk merebut cinta yang seumur hidup telah dijalani seorang anak perempuan dan ayahnya.

Ayah adalah lelaki pertama yang sampai kapan pun tidak akan lepas dari hidup seorang anak perempuan. Jika ada kata yang lebih bisa menggambarkan dari sekedar ‘cinta’ itulah kata yang menggambarkan bagaimana hubungan ayah dan anak perempuannya.