Hal Penting Yang Perlu diperhatikan dalam Pernikahan Normal Baru. Beberapa daerah di Indonesia sedang dipersiapkan untuk memasuki kondisi Kewajaran Baru atau New Normal. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun telah mengeluarkan skenario New Normal di tengah pandemi corona.

Kenormalan baru; (bahasa Inggris: new normal), terkadang juga disebut kewajaran baru atau kelaziman baru, adalah sebuah istilah dalam bisnis dan ekonomi yang merujuk kepada kondisi-kondisi keuangan usai krisis keuangan 2007-2008, resesi global 2008–2012, dan pandemi COVID-19.

Kondisi kewajaran baru ini memberi angin segar bagi mereka yang ingin melangsungkan pernikahan normal baru. Menteri Agama Fachrul Razi telah mengeluarkan sebuah aturan baru mengenai kegiatan akad nikah atau perkawinan di rumah ibadah selama pandemi virus corona masih berlangsung.

Aturan baru ini tertuang dalam Surat Edaran (SE) Menteri Agama Nomor 15 Tahun 2020 tentang Panduan Penyelenggaraan Kegiatan Keagamaan di Rumah Ibadah dalam Mewujudkan Masyarakat Produktif dan Aman Covid di Masa Pandemi.

Kebijakan tersebut dikeluarkan dengan mulai disiapkannya normal baru untuk berbagai kegiatan di tengah pandemi Covid-19 yang masih terus terjadi. Termasuk di dalamnya kegiatan akad nikah.

Ketentuan mengenai akad nikah di rumah ibadah Mengutip isi Surat Edaran Menteri Agama Nomor 15 Tahun 2020, disebutkan bahwa penerapan fungsi sosial rumah ibadah meliputi kegiatan pertemuan di rumah ibadah seperti akad pernikahan/perkawinan diberlakukan tambahan ketentuan sebagai berikut:

1. Memastikan semua peserta yang hadir dalam kondisi sehat dan negatif Covid-19.
2. Membatasi jumlah peserta yang hadir maksimal 20 persen dari kapasitas ruang dan tidak boleh lebih dari 30 orang.
3. Pertemuan dilaksanakan dengan waktu seefisien mungkin.

Perlu menjadi catatan bahwa; panduan kegiatan keagamaan dan kegiatan agama sosial yang diatur dalam surat edaran Kementerian Agama tersebut tidak hanya didasarkan status zona yang berlaku, akan tetapi juga memerhatikan kasus penularan di lingkungan rumah ibadah.

Hal Penting Yang Perlu diperhatikan dalam Pernikahan Normal Baru

Adanya Surat Edaran Menteri Agama Nomor 15 Tahun 2020, menjadi catatan bagi mereka yang ingin melangsungkan akad atau pernikahan.

Nah, apa saja yang bisa kita perhatikan untuk melangsungkan akad atau pernikahan di kondisi kewajaran baru? Berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan ketika melangsungkan pernikahan dalam kondisi kewajaran baru:

1. Pemilihan Venue dalam Pernikahan Normal Baru

Menjadi catatan pertama ketika kita akan melangsungkan pernikahan di kondisi New Normal ini atau pernikahan normal baru. Seperti dalam surat edaran, jumlah peserta yang hadir maksimal 20 persen dari kapasitas ruangan.

Penting bagi calon pengantin, untuk memilih lokasi yang terbuka di dalam melangsungkan acara resepsi pernikahan. Ini juga kesempatan tentunya buat melaksanakan pernikahan out dor seperti garden party.

2. Daftar Tamu dan Pesta Virtual

Adanya pembatasan peserta, tentu saja menjadikan calon pengantin pintar-pintar menyusun daftar tamu undangan. Pastikan mereka yang memang memiliki kedekatan, baik itu keluarga besar, sahabat dan orang dekat lainnya.

Sejak awal perlu untuk memberi tahukan kepada keluarga dan kenalan yang tidak diundang, bahwa mereka tidak diundang karena keterbatasan tempat dan aturan dari kondisi normal baru.

Bagi mereka yang tidak bisa hadir, bisa tetap menyaksikan akad dan resepsi melalui ‘pesat virtual’ bisa menggunakan aplikasi seperti Zoom atau disiarkan di sosial media. Karenanya perlu membuat tim kecil yang melakukan siaran langsung, selain tim dokumentasi tentunya.

4. Gunakan ‘Amplop Digital dalam Pernikahan Normal Baru

Menghindari sentuhan, menghindari penularan virus memang harus maksimal. Sejak awal di  dalam undangan perlu diinformasikan bahwa tidak menerima hadiah atau amplop fisik. Informasikan bahwa sumbangan dapat dilakukan melalui uang elektronik.

Dalam melangsungkan resepsi pernikahan normal baru gunakan Amplop digital menggunakan scan barcode. Jadi para tamu yang datang akan diminta untuk scan barcode yang telah disediakan. Karenanya penting di dalam undangan diberitahukan mekanisme penggunaan amplop digital.

Amplop digital yang dipilih adalah yang sudah familiar di masyarakat seperti  OVO dan Gopay. Sehingga tamu undangan tidak bingung di dalam penggunaannya.

5. Tidak Ada Jabat Tangan, Peluk Hangat dan Cipika-cipiki

Salah satu momen penting di dalam pesta pernikahan adalah jabat tangan, peluk hangat dan cipika-cipiki dengan kerabat dekat. Di kondisi pernikahan normal baru, kita harus bisa mengikhlaskan tidak bersentuhan fisik. Sehingga tidak ada yang namanya jabat tangan, peluk hangat dan cipika-cipiki.

Mengatur kondisi ini pun penting disiapkan sejak awal, bagaimana panggung untuk pengantin dan tamu undangan memiliki jarak yang cukup dan sesuai standar kesehatan.

6. Protokol Kebersihan dan Kesehatan dalam Pernikahan Normal Baru

Protokol kebersihan dan kesehatan tentu menjadi yang utama, penting bagi penyelenggara untuk memastikan kebersihan dan kesehatan; tempat, makanan, dan tamu undangan.

Melangsungkan pernikahan normal baru, memang harus ketat di dalam protokol kebersihan dan kesehatan. Perlu adanya aturan cuci tangan, penggunaan masker, jaga jarak dan pengecekan suhu terlebih dahulu sebelum tahu diperbolehkan masuk.  Tempat cuci tangan pun perlu di perbanyak di berbagai sudut.

Pengaturan tempat makan pun harus disesuaikan dengan standar normal baru. Jangan sampai terjadi kerumunan orang atau antrean mengambil makan.

7. Jangka Waktu Resepsi Pernikahan

Satu hal yang harus calon pengantin pahami, di dalam melaksanakan pernikahan normal baru ini jangka waktu resepsi tidak bisa lama.

Waktu yang digunakan untuk acara resepsi tentu lebih singkat di banding kondisi normal sebelum pandemi. Hal ini tidak lain untuk menghindari kerumunan dalam waktu lama.

Nah, setelah melangsungkan pernikahan tentu akan ada malam pertama dan bulan madu dalam kondisi normal baru. Bagaimana melakukannya agar aman? Silakan baca artikel berikut: Bagaimana cara berhubungan intim dengan pasangan?