Penulis: Vindiasari Yunizha

Editor : Bernadeta Diana

Tak dapat dipungkiri bila setiap orang tua menaruh ekspektasi besar terhadap anak. Sejak masih dalam kandungan, orang tua senantiasa memberikan segala hal dengan maksimal untuk buah hatinya. Mulai dari nutrisi hingga rencana jangka panjang untuk sang buah hati. Secara tak langsung, para orang tua cenderung akan membimbing anak ke arah yang mereka anggap baik.

Posisi anak di mata negara juga tak kalah penting mengingat anak adalah calon penerus bangsa. Tak heran bila negara bahkan menaruh perhatian khusus bagi anak dengan mengeluarkan peraturan Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Anak sendiri dipahami sebagai orang yang memiliki usia di bawah 18 tahun.  

Salah satu tujuan dari undang-undang tersebut adalah menjamin pemenuhan hak masing-masing anak. Namun demikian, pemenuhan hak anak tentu perlu disertai dengan peran aktif orang tuanya. Sebelum telanjur berekspektasi, sudahkah orang tua benar-benar memahami hak anak?

Mendefinisikan Hak Anak

Sebagai manusia, tiap orang memiliki hak dan kewajiban, termasuk anak-anak. Hak anak adalah segala sesuatu yang harus didapatkan atau diterima oleh anak dan apabila tidak diperoleh, anak berhak menuntut hak tersebut. Pada tahun 1923, perempuan bernama Eglantyne Jebb merumuskan tentang hak-hak anak menjadi 10 bagian. Perumusan tersebut melalui proses yang panjang hingga akhirnya disahkan menjadi Konvensi Hak-hak Anak (KHA) oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 1989 silam. Adapun 10 hak anak yang tercantum dalam KHA meliputi hak mendapatkan nama atau identitas, memiliki kewarganegaraan,  memperoleh perlindungan, memperoleh makanan, hak kesehatan, rekreasi, pendidikan, bermain, mendapatkan kesamaan, hingga berperan dalam pembangunan.

Definisi hak anak yang berlaku di Indonesia tentu senantiasa sejalan dengan posisi anak sebagai warga negara. Pada dasarnya, seorang anak yang lahir di Indonesia berhak mendapatkan perlindungan dari kekerasan serta diskriminasi. Peraturan perundang-undangan di Indonesia sendiri mendefinisikan hak anak sebagai bagian dari Hak Asasi Manusia. Menurut UU Nomor 35 tahun 2014, pihak yang wajib untuk menjamin, melindungi, serta memenuhi hak anak adalah terdiri dari orang tua, keluarga, masyarakat, negara, pemerintah, termasuk pemerintah daerah.

Secara praktis, pemenuhan hak anak yang dapat segera dilakukan oleh orang tua usai kelahiran si buah hati adalah pemberian nama atau identitas. Pemberian nama sebagai identitas ini kemudian dikukuhkan melalui pembuatan akta kelahiran. Selain itu, nama anak juga perlu ditambahkan ke dalam Kartu Keluarga melalui Dinas Pendidikan dan Pencatatan Sipil. Kejelasan identitas anak dalam bentuk akta kelahiran nantinya akan turut memudahkan  anak ketika mengurusi administrasi, misalnya ketika si anak hendak mendaftar untuk bersekolah.

Mendaftarkan anak untuk bersekolah hanyalah salah satu contoh nyata pemenuhan hak anak dalam hal pendidikan. Di luar sekolah, hak atas pendidikan dapat dilakukan dengan mengajarkan konsep baik dan buruk yang berlaku secara umum dalam masyarakat dengan cara sederhana. Misalnya membiasakan anak untuk membereskan mainan miliknya usai digunakan.

Upaya Orang Tua dalam Pemenuhan Hak Anak

Bagi orang tua, mendidik, memperhatikan tumbuh kembang, hingga melindungi anak menjadi tanggung jawab yang membutuhkan waktu dan pemahaman berdasarkan pengetahuan serta pengalaman. Mereka yang sadar akan pentingnya memenuhi hak anak akan berusaha memberikan pola asuh yang terbaik dengan berbagai cara. Membaca, menghadiri workshop atau seminar, hingga berbagi pengalaman dengan sesama orang tua ataupun ikut serta dalam komunitas bisa menjadi pilihan para orang tua untuk belajar pola asuh.

Sebelum memenuhi hak anak, melaksanakan kewajiban sebagai orang tua tidak boleh dilupakan. Kewajiban orang tua terhadap anak telah tercantum dalam kelanjutan dari Undang-undang tentang perlindungan anak, yaitu Undang undang nomor 35 tahun 2014 pasal 26 ayat 1. Adapun kewajiban orang tua antara lain: mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anak; menumbuhkembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya; mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak; serta memberikan pendidikan karakter dan penanaman nilai budi pekerti pada anak.

Tidak ada pengasuhan anak yang sempurna, meski begitu ayah dan ibu bisa memaksimalkan pemenuhan hak anak setelah kewajiban dilaksanakan. Orang tua berperan penting dalam membentuk karakter anak, baik ibu maupun ayah. Sebagian besar orang tua menilai pemenuhan hak anak bisa tercukupi melalui finansial atau materi. Maka tak heran apabila peran ayah pada umumnya berperan sebagai pemberi nafkah. Sementara ibu memiliki porsi lebih besar dalam segi pengasuhan anak. Hal tersebut memang tak sepenuhnya salah, tapi perlu digaris bawahi bahwa anak senantiasa membutuhkan peran ayah dan ibu di luar pemenuhan materi.

Kehadiran sosok ayah dalam pemenuhan hak anak tak hanya dari segi materi, melainkan pemenuhan batin. Dalam jurnal perempuan dan anak, penelitian tentang peran ayah dalam mendidik anak disebutkan tak hanya memberikan sokongan finansial. Ayah memiliki peran penting dalam perkembangan dan keberhasilan anak.  Fungsi dan peran orang tua dalam keluarga bisa menurun ke buah hatinya lewat nilai-nilai dan norma yang diterapkan dalam keluarga.

Anak membutuhkan afeksi dari ayah maupun ibu yang terwujud dalam perhatian, kebahagiaan, hingga rasa aman. Kebutuhan tersebut sering kali terabaikan dengan beragam hal, salah satunya keadaan. Dilema antara keluarga atau pekerjaan sangat melekat bagi keluarga di Indonesia.

Kita memang bekerja demi anak, akan tetapi mengasuh anak tetap adalah prioritas. Luangkan waktu untuk terus memberikan kasih sayang kepada anak. Misalnya saat akhir pekan bisa dimanfaatkan dengan kegiatan seru bersama anak atau family time. Momen tersebut tentu bisa menumbuhkan ikatan atau bonding antara orang tua dan anak. Pada momen tersebut, dengarkan baik-baik pendapat anak tanpa perlu memaksakan kehendak dan ekspektasi. Mengarahkan memang baik, namun tak boleh melupakan sejatinya anak-anak.  

Referensi:

https://www.ayahbunda.co.id/balita-psikologi/10-hak-anak
https://www.unicef.org/indonesia/id/01_mengenal_hak_hak_anak.pdf