Perkembangan motorik halus pada balita pun bisa mengalami gangguan. Menguasai keterampilan motorik merupakan salah satu aspek perkembangan anak usia dini. Keterampilan motorik sendiri terbagi menjadi 2, yakni motorik kasar dan motorik halus.

Keterampilan motorik kasar adalah suatu keterampilan gerak yang melibatkan kerja dari otot besar, seperti gerak lengan dan kaki. Keterampilan motorik kasar inilah yang membuat bayi mampu duduk, berguling, merangkak berdiri, dan berjalan.

Sementara itu, keterampilan motorik halus merupakan suatu keterampilan gerak yang melibatkan otot kecil, salah satunya seperti yang ada di tangan, jari, dan pergelangan tangan. Keterampilan motorik halus ini membuat bayi dapat melakukan aktivitas seperti menyikat gigi, makan, menulis, mengancingkan baju, dan memotong kertas dengan gunting.

Keterampilan motorik halus tidak hanya terbatas pada kemampuan gerak tangan, jari-jari, dan pergelangan tangan saja. Dalam tulisan yang berjudul “What you need to know about your child’s speech as a fine-motor skill“, berbicara juga merupakan salah satu aktivitas motorik halus. Saat berbicara, anak membutuhkan koordinasi yang baik pada organ di sekitar mulut, bibir, lidah, dan organ wicara lainnya untuk dapat menghasilkan bunyi yang berbeda-beda.

Bayi biasanya sudah mulai belajar untuk menguasai keterampilan motorik halus sejak usia 1-2 bulan. Proses belajar tersebut akan terus berlanjut sampai dia memasuki usia TK dan SD.

Gangguan motorik halus pada balita

Proses perkembangan motorik halus setiap anak berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Ada yang menguasainya dengan cepat, ada juga yang menguasainya lebih lambat.

Beberapa anak balita ada yang mengalami gangguan dalam perkembangan motorik halus. Misalnya di usia 12 bulan genggaman anak tidak begitu kuat, sehingga benda yang ada digenggamannya mudah terlepas dan jatuh. Orang tua dapat mengatas keterlambatan ini dengan mengajak anak melakukan kegiatan yang melibatkan keterampilan motorik halus, seperti memainkan mainan yang dapat diremas-remas.

Namun jika aktivitas ini tidak cukup membantu mengatasi masalah keterlambatan perkembangan motorik halus anak, segera hubungi dokter untuk diperiksa lebih lanjut. Pasalnya keterlambatan perkembangan motorik halus pada anak kemungkinan disebabkan oleh masalah otot.

Jika masalah perkembangan motorik halus sampai membuat anak mengalami kesulitan dalam melakukan kegiatan seperti menggunting dan menulis, ada kemungkinan dia mengalami dyspraxia.

Dyspraxia adalah kondisi medis yang memengaruhi koordinasi dan pergerakan anggota tubuh, sehingga penderita tidak dapat beraktivitas fisik secara maksimal seperti orang normal lainnya. Bayi yang menderita dyspraxia membutuhkan waktu yang lebih lama untuk bisa duduk, merangkak dan berjalan. Anak penderita dyspraxia biasanya tampak ceroboh. Dia akan mudah jatuh atau menjatuhkan barang yang dia pegang. Keterlambatan perkembangan motorik menjadi salah satu gejala dyspraxia, namun kebanyakan penderita kondisi ini baru terdiagnosis ketika menginjak usia 5 tahun atau lebih.

Keterlambatan bicara juga bisa menjadi salah satu tanda gangguan perkembangan motorik halus balita. Pasalnya, bicara melibatkan gerakan motorik halus dari mulut, bibir, dan lidah.

Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengetahui gejala-gejala gangguan perkembangan motorik pada anak. Jangan ragu untuk hubungi dokter jika anak menunjukkan gejala gangguan perkembangan motorik yang serius.

Referensi:

Leomagan.com.__. What you need to know about your child’s speech as a fine-motor skill.

Healthline.com. How to Help Your Child Develop Fine Motor Skills.

Intermountainhealthcare.com. _. Fine Motor Delay.

alodokter. 30 November 2017. Dyspraxia.