Hari Minggu itu berjalan tidak seperti biasanya. Biasanya, Minggu pagi saya kerap masih mendengkur di tempat tidur. Tapi tidak di hari Minggu, 15 Maret 2020 kemarin. Kemarin, saya tidur lebih cepat dan bangun lebih pagi untuk menyambangi perhelatan milik teman-teman dari Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga.

Kebanyakan kerabat mungkin lebih mengenal mereka dengan nama Museum Kolong Tangga. Dulu mereka mudah ditemui di Gedung Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Namun sekarang mereka sedang berupaya mencari persinggahan baru sejak ruangan di TBY sudah habis masa pinjamnya. Di sela pencarian pun mereka masih terus giat beraktivitas dan berkomunitas. Biasanya dalam rangka menggalang sedikit pundi-pundi dana untuk menyokong kegiatan mereka lebih lanjut.

Salah satunya adalah yang saya datangi di hari Minggu itu. Bertajuk ‘Festival We Care We Play’, Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga menjadi yang pertama dalam mengadakan sebuah hiburan alternatif yang menarik nan edukatif. Di acara ini, para peserta akan diajak memainkan berbagai permainan tradisional dari dalam dan luar negeri.

Maka, penuh dengan rasa semangat berbalut kantuk tipis, saya memacu motor saya menuju Bumi Perkemahan Babarsari. Tiba di sana, saya disambut dengan senyum ramah para panitia. Saya menitikan langkah melewati spanduk acara yang tengah dipasang, menuju lapangan rerumputan tempat permainan-permainan akan dilaksanakan. Dari kejauhan samar terdengar gelak tawa bocah kecil yang penuh keriangan.

Bocah-bocah kecil yang tidak dapat duduk tenang

Acara dibuka dengan sambutan dari MC, ketua acara, dan penampilan tarian luyung dari Klaten. Di hadapan sang penari, belasan anak duduk menyaksikan dengan wajah gembira dan tak sabar seolah menanti untuk segera bermain.

Sontak kantuk saya menghilang saat saya tiba di venue permainan. Dari plang tulisan terlihat mereka sedang memainkan tinikling, sebuah permainan sekaligus tarian tradisional dari Filipina. Suara ritmis yang dihasilkan bilah-bilah bambu yang dibenturkan ke tanah berbaur dengan indah bersama suara sorak tawa anak-anak yang memainkannya.

Di sebelahnya, beberapa anak dipandu oleh panitia sedang mencoba memahami konsep permainan charade. Sebuah permainan tebak kata asal Perancis. Ekspresi para pemain yang mencoba untuk menebak kata memicu senyum di sudut bibir saya.

Di bawah rimbunnya pepohonan, suasana justru semakin memanas kala sorak tawa kembali hadir dari tempat permainan telok penyok. Terpantau si penjaga telur sibuk mencari telur yang disembunyikan para pencuri sembari sesekali menggerutu dalam bahasa Jawa. Di pinggir tempat bermain, terlihat para orang tua menyaksikan dengan bahagia kala anak-anaknya bermain dengan gembira.

Mengapa acara dari Museum Kolong Tangga ini perlu Anda nantikan

Satu hal yang saya rasakan kala berada di acara tersebut: damai.

Meski sebagian waktu saya hanya duduk di pinggiran sembari melihat anak-anak bermain, itu pun sudah membuat waktu serasa berjalan lebih lambat. Sejenak saya lupa akan segala riuh rutinitas pekerjaan yang menanti saya di luar area bumi perkemahan tersebut.

Acara ini berbeda dari biasanya. Sebuah hiburan alternatif. Selain terhibur, mereka yang datang juga turut membantu Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga untuk terus bisa mengadakan acara seperti ini. Semoga Festival We Care We Play hadir lagi tahun depan!

Berikut adalah beberapa potret acara:

Tarian luyung sebagai pembuka acara.
Menghentikan putaran roda kayu dalam permainan Korbo, permainan tradisional dari Etiopia.
Mencoba menangkap pencuri telur penyu.
Melompat sedikit demi sedikit ke arah bisseok, permainan dari Korea.
Melompat menghindari bambu dalam permainan tinikling.
Sudut pameran dan memorabilia.
Workshop menganyam.

Terimakasih untuk teman-teman dari Museum Kolong Tangga untuk mengingatkan kita semua bahwa bermain pun sama pentingnya. Jangan lupa untuk bermain, fams!