Harus diakui, family blogging menjadi alternatif komunikasi jarak jauh yang sangat menarik dan menyenangkan. Kali ini izinkan aku sedikit berbagi kisah keluargaku. Di akhir bangku SD hingga bangku SMP, ibuku pergi menuntut ilmu ke Belanda. Aku, ayah, dan adik perempuanku tinggal di rumah dengan satu orang PRT.

Kala itu, perkembangan teknologi masih belum secanggih sekarang. Di usiaku yang masih sekitar 14 tahun, berjauhan dengan sosok ibu bukanlah hal yang mudah. Meski ibu dan ayah berjuang keras untuk memulangkan ibu ke Indonesia tiap beberapa bulan sekali, hal tersebut tidak mengurangi intensitas rengek tangisku tiap Ibu harus kembali ke Belanda selang beberapa hari di rumah.

Di ujung studinya, ibu membawaku dan adikku ikut ke Belanda untuk beberapa bulan, dan disusul Ayah di sebulan terakhir. Meski aku dan adik senang bukan main, aku tidak terpikirkan perasaan Ayah yang harus ditinggal anak dan istrinya untuk beberapa bulan.

Seiring pendewasaan diri, aku pun menyadari betapa sama tidak mudahnya hal tersebut bagi kedua orang tua. Belakangan, orang tuaku bercerita bahwa blog keluarga sangat membantu mereka mengetahui kabar dan cerita unik dari pasangan dan anak-anaknya.

Family blogging membantu membiasakan anak menulis

Sejak kecil, aku dan adik dibiasakan menulis oleh orang tua. Tulisan kami kerap diapresiasi sehingga motivasi untuk menulis tidak pernah surut, meskipun sering naik-turun. Ketika ibu membawaku dan adik bersamanya ke Belanda, Ayah tinggal sendiri di Indonesia. Mulai dari situ blog keluarga kami lahir, dengan tujuan agar Ayah tidak kehilangan momen penting dalam tumbuh kembang anak-anaknya.

Apapun kami tulis di sana—dari pengalaman bermain salju untuk pertama kalinya, mengunjungi tempat wisata, cerita masuk sekolah berbahasa Belanda, hingga karya puisi dan gambar tangan yang kami buat. Ibu juga kerap mengisinya dengan cerita-cerita romantis guna menepis rindu.

Blog itu dibuat oleh Ayah, meski Ayah sendiri jarang mengisinya. Kala itu tanpa aku sadari, konten blog tersebut dengan sukses membuat Ayah yang jauh di sana merasa lebih dekat. Berkat family blogging, Ayah jadi tidak ketinggalan cerita-cerita unik dari keluarganya.

Tujuan dari family blog

Meski blog memiliki potensi sebagai sumber penghasilan tambahan berkat fitur iklan, tidak semua orang memulai blogging semata-mata karena uang atau ketenaran. Fungsi fitur blog pertama kali muncul pun karena dilatarbelakangi tujuan tersebut.

Blog membuat kita mampu membagikan serpihan cerita kehidupan pada orang tercinta dengan efektif tanpa perlu memenuhi inbox mereka dengan tumpukan pesan dan gambar.

Hal lain yang perlu diperhatikan ketika membuat blog keluarga adalah memastikan siapa saja pembacanya. Kala itu, Ibu dengan bangga membagikan konten blog keluarga kami ke teman-teman terdekatnya. Tanpa disadari, dukungan moral serta apresiasi dari orang-orang terdekat juga membantu membuat kondisi jarak jauh menjadi lebih mudah dijalani.

Selain sebagai wadah berbagi cerita, tidak jarang blog keluarga juga dijadikan referensi oleh orang lain, misal destinasi wisata, tips dan trik berkeluarga, hingga inisiatif membuat blog itu sendiri. Namun penting untuk selalu mengingat bahwa tidak segala hal harus dibagikan secara luas lewat blog. Beberapa hal yang bersifat privat tetap kami simpan untuk konsumsi pribadi saja. Berdasarkan yang bisa aku ingat, konten-konten blog yang kami bagi cenderung berisikan hal positif atau pengalaman yang bisa jadi inspirasi bagi pembaca.

Jadi, bagi Anda yang mungkin sudah berkeluarga dan terpisah jarak, memulai family blog merupakan hal menarik yang perlu Anda coba. Jangan takut untuk memulai, karena saat ini tersedia berbagai situs yang menyediakan situs blog gratis untuk Anda gunakan. Ditambah lagi, dengan membiasakan keluarga menulis, Anda juga membantu meningkatkan kepercayaan diri, kedekatan keluarga, serta kemampuan menulis anak. Selamat mencoba!