Ekspektasi orang tua dalam budaya Jawa kerap menjadi sebuah polemik yang menarik untuk dibahas, termasuk konsep dadi wong. Ungkapan “setiap orang tahu menginginkan yang terbaik bagi anaknya” pasti sering Anda dengar. Namun apa yang sebenarnya orang tua inginkan untuk anaknya? Agar anaknya menjadi orang sukses? Memiliki banyak uang? Cerdas dan berpendidikan tinggi? Dan tentunya banyak lagi harapan lainnya yang tingginya bukan main.

Ekspektasi orang tua yang abstrak ini terangkum dengan indah dalam sebuah konsep budaya Jawa yang disebut dadi wong. Dari segi bahasa, dadi wong berarti dadi (jadi) dan wong (orang). Sederhananya, konsep ini adalah sebuah sebutan untuk pencapaian seseorang ketika ia sudah sukses dan mandiri. Namun apa kesuksesan dan kemandirian yang dimaksud dalam budaya Jawa ini?

Makna dari dadi wong dan ekspektasi orang tua Jawa

Menurut anggapan kebanyakan orang Jawa, seseorang dapat diakui dadi wong berdasarkan apa yang dimilikinya. Kepemilikan yang dimaksud tidak hanya merujuk pada harta benda, melainkan bentuk non-material lainnya yang menjadi tujuan hidup. Menurut Koentjaraningrat (1985), tujuan hidup adalah karya. Hasil dari karya inilah yang nantinya dapat mewujudkan kebahagiaan dalam hidup.

Kebahagiaan dalam hidup ini dapat berupa kedudukan, kekuasaan, ataupun simbol-simbol lainnya yang melambangkan kemakmuran. Dengan kata lain, dadi wong dapat diartikan sebagai sebuah bentuk kesuksesan seseorang dalam hidupnya.

Konsep ini memiliki makna yang luas, lentur, dan adaptif. Semua tergantung dengan status sosial ekonomi subjeknya. Standar kesuksesan dalam konsep dadi wong dapat disesuaikan menurut persepsi masing-masing lapisan masyarakat. Sejatinya, konsep dadi wong memiliki arti yang lebih luas dari sekedar sukses ataupun makmur.

Dadi wong menyangkut berbagai aspek, yakni aspek ekonomi, aspek moral, aspek psikologis, sosial-budaya, hingga aspek agama. Perlu diingat bahwa konsep ini biasanya dapat disematkan pada orang yang sudah berkeluarga, karena berkeluarga merupakan satu dari sekian puncak kehidupan yang dipahami dalam budaya Jawa.

Ekspektasi orang tua Jawa kala anak beranjak dewasa

Setiap orang tua dalam budaya Jawa tentunya mengharapkan anaknya untuk bisa dadi wong, yakni sukses kala ia beranjak dewasa. Ekspektasi orang tua dalam budaya Jawa ini mengharapkan keturunan mereka untuk bisa menjadi manusia yang seutuhnya. Tak hanya mempersoalkan materi, berikut adalah beberapa karakteristik non-material yang menjadi tonggak penyokong seseorang yang bisa disebut dadi wong.

1. Mandiri

Kemandirian memiliki peran yang sangat penting sebagai tanda kedewasaan seseorang. Dalam ekspektasi orang tua Jawa, anak sudah dibilang mandiri dan dadi wong ketika ia sudah tidak lagi membebani orang tuanya. Artinya, anak sudah bisa hidup mandiri dan survive tanpa bantuan orang tua. Bahkan dianggap lebih baik lagi ketika anak berbalik menghidupi orang tua-nya yang sudah sepuh.

Anak dapat disebut mandiri juga ketika ia sudah memiliki penghasilan, tempat tinggal, dan keluarga sendiri. Ia juga harus mampu mengelola kehidupan keluarganya sendiri tanpa adanya bantuan atau campur tangan dari orang lain. Jika anak masih bergantung pada orang lain atau orang tuanya kala ia sudah berkeluarga, maka anak itu masih sangat jauh dari konsep dadi wong.

2. Hidup berkecukupan

Kata ‘berkecukupan’ perlu digarisbawahi. Tidak lebih dan tidak kurang. Hidup makmur tidak selalu berarti seseorang harus memiliki harta benda yang berlimpah-ruah. Selama kebutuhan sandang, pangan, dan papan dirinya dan keluarganya bisa terpenuhi, maka sudah bisa disebut berkecukupan.

Pekerjaan dan penghasilan tidak menjadi tolok ukur dalam aspek hidup berkecukupan. Ambil contoh saja seorang tukang becak. Meskipun penghasilannya tidak seberapa, bila ia mampu menghidupi keluarganya dengan jerih payahnya sendiri tanpa menyusahkan orang lain, maka kehidupannya sudah cukup.

Artinya, masyarakat dengan kondisi ekonomi kelas bawah pun dapat mencapai konsep dadi wong dengan standar yang lebih luwes. Selain kondisi ekonomi, aspek pendidikan pun juga berlaku dengan luwes. Standar pendidikan sarjana (S1) mungkin menjadi batas minimal bagi mereka yang kondisi ekonominya di atas rata-rata. Namun bagi orang lain, lulusan SD atau SMA mungkin sudah cukup, atau bahkan melebihi kecukupan untuk bisa hidup mandiri untuk dirinya dan keluarga.

3. Rumah tangga yang harmonis

Bagi orang Jawa, perkawinan merupakan kewajiban dalam agama. Menikah menjadi suatu ukuran kedewasaan seseorang. Dengan menjalani kehidupan pernikahan, pasangan suami-istri akan merasakan tanggung jawab yang lebih besar dari sebelumnya terkait menghidupi dan mempertahankan keluarga. Jika seseorang belum menjalani kehidupan rumah tangga, maka ia tidak bisa disebut dadi wong karena belum merasakan kehidupan berkeluarga. Meskipun usianya sudah dewasa dan penghasilannya sudah cukup besar, selama ia belum berkeluarga, ia masih akan dianggap anak-anak.

Kendati demikian, berkeluarga saja pun tidak cukup sebagai persyaratan dadi wong. Ekspektasi orang tua Jawa adalah agar anaknya memiliki keluarga yang harmonis. Artinya, orang tua dengan anak-anak bisa saling berkomunikasi dengan demokratis dalam keluarga tersebut. Rumah tangga harus diwarnai dengan kebahagiaan dan penyelesaian konflik yang tepat.

Selain itu, seseorang yang dewasa dan mandiri juga harus bisa mendidik anaknya sesuai dengan moral dan norma yang baik dan benar. Anak dianggap sebagai cerminan cara didik orang tuanya.

4. Selaras dan berhubungan baik dengan lingkungan sekitar

Dalam budaya Jawa, dikenal juga istilah srawung. Sederhananya, srawung adalah sifat membaur dengan sekitar dan hidup beramah-tamah dengan tetangga dan orang lain di sekitar. Sifat saling membantu dan gotong royong diperlukan guna mencapai kehidupan yang harmonis.

Sejatinya, manusia adalah makhluk sosial. Meski sudah berkeluarga, tapi orang itu tidak peduli dengan sekitarnya, maka ia tidak bisa disebut dadi wong. Ketika seseorang dihormati, dipandang dengan baik oleh tetangganya, tentunya ekspektasi orang tua turut terpenuhi. Etika dan ketaatan terhadap adat istiadat sekitar juga penting.

Dalam konsep srawung, seseorang diharapkan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya dan menjauhkan diri dari perilaku tidak baik seperti sombong, iri hati, dengki, atau merugikan orang lain.

Pola asuh tentunya menjadi barometer yang bisa menuntun anak untuk menghidupi konsep ini dengan sepenuh hati. Tanpa pengasuhan yang tepat dan tertata dan sesuai dengan adat, maka konsep ini hanya akan berhenti di mulut saja. Pertanyaannya, apakah konsep dadi wong sesuai dengan apa yang Anda inginkan untuk anak Anda kala ia besar nanti? Silahkan Anda tentukan sendiri.

Referensi

Fardhani, L. A. (2015). MAKNA “DADI WONG” SEBAGAI REFLEKSI DARI SOSIALISASI PADA POLA PENGASUHAN ANAK DALAM KELUARGA JAWA DI KELURAHAN WANEA KOTA MANADO. Jurnal Holistik Tahun VIII, 15, 1-13.

Ningsih, C. W. (2019, Oktober 13). Diambil kembali dari Kompasiana

Triratnawati, A. (2005). Konsep Dadi Wong Menurut Pandangan Wanita Jawa. Humaniora, 17, 300-311.