Penulis: Yosimi Ratna

Editor: Bernadeta Diana

Salah satu dilema besar yang dialami para orang tua milenial adalah tentang penggunaan gawai atau gadget pada anak. Kecepatan teknologi informasi saat ini membuat kita jarang bisa lepas dari gawai, entah demi menunjang pekerjaan, sarana hiburan, atau untuk sekadar mengakses media sosial. Ketika kita memiliki momongan, kebiasaan ini cenderung tak mudah ditinggalkan. Kemungkinan yang dapat terjadi adalah kita mengenalkan gawai pada anak sebelum berusia dua tahun supaya berhenti menangis.

Seiring berjalannya waktu, anak memainkan gawai lebih dari satu jam, hingga akhirnya telanjur kecanduan. Orang tua yang mulai merasa khawatir dengan kebiasaan ini lalu berusaha membatasi akses anak terhadap gawai. Namun, si buah hati justru mengalami tantrum, seperti marah-marah, mengamuk, atau membanting sesuatu. Tantrum, adalah ketika anak menginginkan sesuatu namun tidak dapat mengungkapkan karena keterbatasan kemampuan bahasa. Pada titik ini, kita tentu akan bertanya, apa yang salah? Apa sebenarnya bahaya gawai untuk anak? Bagaimana cara agar anak tidak kecanduan gawai?

Potensi Bahaya Gawai untuk Anak Usia Dini

Bahaya pada gawai yang terbesar terletak pada layar (screentime). Layar pada gawai -ponsel pintar, tablet, komputer, maupun televisi- yang cenderung lebih kontras dan terang menarik perhatian anak lebih cepat daripada pencahayaan alami. Dilansir dari The Telegraph, penelitian yang dilakukan oleh Dr David Allamby, seorang dokter bedah mata asal Inggris, menemukan bahwa kurangnya pencahayaan alami adalah penyebab utama rabun dekat pada anak. Temuan ini cukup masuk akal mengingat ketika anak menghabiskan waktu bermain gawai, anak cenderung berada di dalam ruangan daripada bermain di luar.

Terlalu banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan untuk menatap layar dapat memperburuk kondisi mata. Selain gangguan pada mata, terlalu sering menatap layar membuat anak malas bergerak, sehingga berbahaya untuk postur tubuhnya. Kecenderungan anak untuk menyentuh layar juga mengurangi kemampuan sensoris anak. Anak berpotensi untuk susah bersosialisasi apabila terlalu lama menatap layar, karena ia tidak bisa memberikan ekspresi seperti yang dibutuhkan pada dialog dengan manusia lain.

Bahaya kedua adalah konten yang kurang sesuai untuk anak usia dini. Menurut Jean Piaget, anak usia 5-9 tahun menerima begitu saja pengetahuan tentang moralitas dari sosok yang dianggap penting, seperti orang tua, guru atau bahkan Tuhan. Di samping itu, ketidakmampuan anak memisahkan fantasi dan realita membuat tokoh-tokoh dalam tayangan pada gawai dapat memiliki pengaruh sama besar dengan orang-orang di kehidupan nyata. Jika ditilik dari perspektif pembuat aplikasi dan video games, konten termasuk pada permasalahan user atau pengguna. Dengan demikian, adalah tanggung jawab orangtua untuk memilih tayangan yang sesuai usia anak.

Anak Dibawah 18 Bulan Belum Boleh Mengenal Gawai

Sebelum memutuskan untuk membiarkan anak mengakses gawai, orang tua wajib paham mengenai sejauh mana perkembangan kemampuan mata anak. American Academy of Pediatrics bahkan melarang orang tua mengenalkan gawai untuk anak dibawah usia 18 bulan. Dalam keadaan mendesak, hanya video-chatting yang diperbolehkan, misalnya ketika orang tua sedang berada di tempat yang jauh dari anak. Hal ini disebabkan ketajaman penglihatan seperti manusia dewasa baru terbentuk pada usia sekitar satu tahun. Intinya, perkembangan mata anak pada usia tersebut masih belum optimal.

Gawai Bukan Media Untuk Bermain, Melainkan Media Belajar

Orang tua yang ingin mengenalkan anak pada gawai harus memilih program yang berkualitas tinggi. Untuk anak usia 2-5 tahun, batasi maksimal 1 jam setiap hari. Tentu saja, saat ini terdapat banyak konten yang ditujukan untuk anak. Beberapa aplikasi juga menyediakan pilihan konten serta pengaturan yang aman untuk anak, seperti pilihan parental controls pada Google Play Store atau Youtube Kids. Selalu dampingi dan aplikasikan tontonan pada kegiatan di kehidupan nyata. Pilih tayangan seperti eksperimen sains yang dapat dilakukan bersama orang tua. Diskusikan pula tayangan yang diakses bersama anak supaya anak dapat menyimpulkan pengetahuan yang didapat melalui gawai. Katakan pada anak jika gawai bukan media untuk bermain, melainkan media belajar.

Batasi Diri Sendiri Terlebih Dahulu

Peran orangtua adalah memberi contoh yang baik bagi anak. Dalam kaitannya dengan gawai, orang tua harus dapat mengontrol egonya terlebih dahulu sebelum dapat melarang anak untuk bermain gawai. Mengenalkan anak pada gawai perlu persetujuan anggota keluarga. Ayah, ibu, kakek, nenek, kakak; semua harus memiliki peraturan yang sama. Ketidaksesuaian antara perintah orang  tua dan tindakan orangtua sering menjadi penyebab kebingungan anak. Anak bisa saja tantrum karena merasa diperlakukan tidak adil lantaran orang tuanya melarang ia bermain gawai, tetapi kita sendiri tidak bisa lepas dari gawai.

Jika kita memang sangat memerlukan gawai, gunakan ketika kita tidak sedang bersama anak. Kita dapat mengatur satu ruang yang bebas gawai, misal kamar tidur. Atur pula waktu bersama tanpa gawai, seperti saat makan bersama. Aturan ini berlaku bagi semua anggota keluarga tanpa terkecuali. Ingatlah bahwa pada dasarnya, anak lebih banyak meniru hal yang kita lakukan daripada hal yang kita katakan.

Referensi:

Santrock, J.W. 2007. Perkembangan Anak Edisi Kesebelas. Alih bahasa: Mila Rachmawati dan Anna Kuswanti. Jakarta: Erlangga

https://www.aap.org/en-us/about-the-aap/aap-press-room/Pages/American-Academy-of-Pediatrics-Announces-New-Recommendations-for-Childrens-Media-Use.aspx
https://www.simplypsychology.org/piaget-moral.html
https://www.telegraph.co.uk/news/science/science-news/11559006/Teach-children-outside-to-save-their-vision-say-scientists.html