Membentak anak ternyata dapat memberi dampak yang buruk bagi anak. Sebagai orang tua, tentunya Anda kerap mengalami momen di kala Anda kehilangan kontrol emosi. Terkadang anak bisa saja jadi pemicunya tanpa mereka sadari. Dan akhirnya, teriakkan lantang keluar dari mulut Anda dan Anda membentak sang anak.

Ketahuilah bahwa Anda tidak sendiri. Orang tua juga manusia. Frustrasi kala menjadi orang tua merupakan hal yang sangat wajar. Membentak itu wajar terjadi. Terkadang menggunakan nada tinggi itu perlu untuk memberi anak penegasan dan peringatan.

Namun alangkah baiknya jika jenis komunikasi macam ini tidak dibiasakan, karena efeknya tidak baik bagi anak. Bahkan bisa menyebabkan efek yang berkepanjangan.

Mengapa orang tua membentak?

Pertama-tama, tanyakan pada diri sendiri, mengapa Anda membentak anak? Jawaban singkatnya, biasanya karena orang tua merasa lelah dan marah, sehingga menggunakan nada tinggi. Metode ini mungkin mampu membuat anak diam dan membuat mereka lebih penurut untuk sementara waktu, tapi tidak akan mampu memperbaiki perilaku maupun sikap anak.

Singkat kata, membentak anak hanya akan membuat anak takut terhadap Anda dan bukan malah membuat anak memahami konsekuensi atas tindakan mereka yang salah.

Anak bergantung pada orang tua untuk belajar banyak hal. Jika amarah, agresi, dan nada tinggi menjadi budaya komunikasi dalam keluarga, maka perilaku anak akan mencerminkan kebiasaan atau budaya tersebut.

Dampak jangka panjang yang serius dari kebiasaan membentak anak

Cara mendisiplinkan anak, seperti membentak, dapat mengakibatkan dampak psikologis jangka panjang bagi anak. Dampak ini cukup serius jika tidak dicegah sejak dini. Berikut adalah beberapa dampak jangka panjangnya.

1. Membentak anak hanya memperburuk perilaku mereka

Mungkin ada beberapa dari Anda yang berpikir bahwa membentak anak bisa menjadi solusi terhadap perilaku anak yang sulit diatur. Namun faktanya, membentak anak justru bisa menghasilkan dampak perilaku yang memburuk.

Anak yang sering membangkang dan melawan orang tua, karena sering dibentak, justru biasanya akan lebih sering membangkang dan melawan orang tuanya. Anak yang tadinya jarang berteriak, karena sering dibentak, justru jadi sering menggunakan nada tinggi dalam menyampaikan keinginannya.

2. Membentak anak dapat memberi dampak berupa berubahnya perkembangan otak anak

Faktanya, manusia memproses informasi negatif lebih cepat daripada informasi yang positif. Salah satu studi yang diadakan di Amerika membandingkan hasil MRI scan otak orang yang sering dibentak selama masa kecilnya dengan orang yang dibesarkan dengan halus selama masa kecilnya. Terbukti bahwa terdapat perbedaan fisik di bagian otak yang berfungsi untuk memproses suara dan bahasa.

3. Membentak dapat membuat anak depresi

Selain membuat anak merasa terluka, takut, dan sedih, membentak anak juga bisa menghasilkan dampak depresi yang berkepanjangan. Dalam salah satu penelitian, anak usia 13 tahun yang sering dibentak selama tumbuh kembangnya menunjukkan gejala depresi yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang dibesarkan dengan cara yang lebih positif.

Gejala depresi yang berkepanjangan ini mampu mendorong anak untuk melakukan perbuatan menyimpang, seperti penggunaan obat-obatan terlarang, mencuri, bertindak kasar, hingga perbuatan seksual yang menyimpang.

4. Anak yang sering dibentak dapat berdampak pada kesehatan fisiknya

Pengalaman tumbuh dewasa yang dialami anak dapat membentuk dirinya hingga ia dewasa. Stres pada masa kanak-kanak dapat menghasilkan dampak kesehatan yang memburuk saat si anak tumbuh dewasa. Individu jadi lebih rentan terkena penyakit dan mudah lemah.

5. Membentak anak bisa menyebabkan munculnya penyakit kronis

Membentak anak pun bisa menghasilkan dampak munculnya penyakit kronis, seperti artritis, sakit kepala, penyakit punggung dan leher, serta komplikasi penyakit kronis lainnya.

Tidak pernah ada kata terlambat. Jika Anda adalah orang tua yang biasa membentak anak Anda, maka hentikan sekarang juga.

Tugas utama orang tua selain memastikan keamanan anak, adalah mengatur emosi Anda sendiri sebagai orang tua.

Referensi

Ginta, D. (2016, Maret 23). The Long-Lasting Effects of Yelling at Your Kids. Diambil kembali dari Healthline

Goldman, R. (2017, April 19). 5 Serious Long-Term Effects of Yelling At Your Kids. Diambil kembali dari Healthline