Mungkinkah tanpa sepengetahuan Anda, anak Anda merupakan seorang pelaku bullying? Selain pentingnya mengetahui saat anak menjadi korban bullying, mendeteksi ketika anak menjadi pelaku pun tidak kalah penting.

Kita semua tahu betapa merugikannya tindak bullying terhadap masa depan anak-anak dan sekitarnya. Tentunya Anda tidak ingin wajah anak Anda terpampang sebagai tersangka bullying atau perundungan yang melakukan hal fatal, bukan?

Beberapa ciri dan sifat yang mencerminkan anak adalah pelaku bullying

Penting bagi Anda untuk mengetahui ciri-ciri dan sifat dari seorang pelaku bullying. Siapa tahu, Anda bisa memberi pencegahan lebih dini sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Silahkan disimak!

1. Anak pelaku bullying merasa perilakunya wajar

Para anak pelaku bullying biasanya kerap menyalahkan para korban ketimbang diri mereka sendiri. Ketika anak melakukan perilaku bullying, ia sering merasa bahwa tindakannya wajar dan si korban memang sewajarnya diperlakukan seperti itu.

2. Mereka biasanya dikelilingi teman yang setipe

Anehnya, anak pelaku bullying biasanya justru memiliki banyak teman. Entah atas dasar rasa senang, takut, atau hormat. Meskipun memiliki banyak teman, para pelaku bullying biasanya memiliki kelompok kecil yang mendukung perilaku bullying ini.

Anak Anda mungkin mencoba menyembunyikan perilaku bullying-nya dari orang tua. Namun Anda masih bisa melihat perilaku teman-temannya. Jika teman anak Anda terlihat melakukan tindakan bullying, besar kemungkinan anak Anda juga terlibat.

3. Anak pelaku bullying sering terlibat masalah di sekolah

Ciri-ciri satu ini cukup sederhana. Di sekolah, guru menjadi pengganti Anda sebagai pengawas anak. Pastikan terjalin hubungan yang penuh rasa percaya antara Anda dan guru. Jika guru sering melaporkan anak terlibat masalah di sekolah dengan murid lainnya, Anda patut waspada.

4. Mereka memiliki masalah perilaku

Masalah perilaku yang dimaksud di sini adalah beberapa perilaku yang mungkin dapat berujung ke tindakan agresif jika meningkat sewaktu-waktu, seperti mudah marah, mudah frustrasi, impulsif, senang berkelahi, minim empati, sombong, dan kasar. Anak yang memiliki masalah perilaku seperti itu lebih cenderung menjadi anak pelaku bullying.

5. Anak korban KDRT

Jika anak mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), besar kemungkinan mereka juga akan melakukan kekerasan ketika merespon tekanan tertentu. Anak yang menjadi korban KDRT cenderung memendam amarahnya, dan mencari pelampiasan terhadap emosinya.

6. Anak korban bullying memiliki kesempatan besar untuk tumbuh menjadi pelaku

Biasanya, anak yang pernah menjadi korban bullying akan balik melakukannya pada orang lain guna mengambil kontrol kembali atas hidup mereka. Lingkaran setan ini akan terus berlanjut jika orang tua tidak hadir untuk memutus rantai lingkaran tersebut.

7. Perhatikan cara anak memperlakukan kakak/adiknya

Jika Anda memiliki lebih dari 1 anak, Anda bisa melihat cara anak Anda memperlakukan kakak/adiknya. Jika ia memperlakukan saudaranya dengan cara yang cenderung agresif dan tidak tampak menyayangi, Anda bisa menduga bahwa ia memperlakukan teman-temannya dengan cara yang serupa.

8. Anak pelaku bullying sering bersikap intoleran

Berdasarkan penelitian pekerja sosial di California, beberapa anak yang pernah terlibat dalam kasus bullying terbukti lebih sering menunjukkan sikap intoleran, bahkan diskriminasi, terhadap anak lain dengan latar belakang yang berbeda (SARA). Ajari anak toleransi dan keberagaman. Ajari anak untuk tidak membenci hanya karena perbedaan yang sederhana.

Ketika anak Anda ternyata adalah pelaku bullying, curiga saja tidak cukup…

Kehadiran orang tua adalah kunci dari perilaku bullying anak. Entah sebagai korban ataupun pelaku, peran orang tua memiliki porsi yang sama pentingnya. Sebenarnya banyak orang tua yang mungkin sudah mulai curiga bahwa anak kesayangannya adalah pelaku bullying. Namun, curiga saja tidak cukup. Sadari, akui, dan atasi.

Referensi

Buttaccio, J. L. (2016, November 8). 10 Warning Signs Your Child Is a Bully. Diambil kembali dari Reader’s Digest

Katz, B. (2015, Januari 26). My Child Is a Bully: What Should I Do? Diambil kembali dari Child Mind Institute

Myers, W. (2011, Agustus 9). 7 Signs That Your Kid’s a Bully. Diambil kembali dari Everyday Health