Sebagai ayah saya memiliki perhatian khusus terhadap bakat anak saya. Walau masih pada tahapan meraba-raba. Apa sih bakat anak saya? Apakah bakat anak berhubungan dari apa yang mereka senangi?

Saya sangat menikmati setiap tumbuh kembang anak saya, satu momen rasanya tidak ‘rela’ untuk terlewat begitu saja. Sering kali satu capaian yang berhasil dilalui, saya kaitkan dengan bakat dia nanti. Jelas saja, ini hanya menduga-duga saja, sebagai bagian dari rasa penasaran apa sebenarnya yang menjadi bakat dan apa saja minat anak-anak usia dini.

Sebagian besar orang tua tentu saja memiliki rasa penasaran yang sama. Antusias orang tua untuk mempersiapkan apa yang menjadi kesenangan anak, tentu wajar hukumnya. Misalnya anak saya yang senang menari, saya berpikir mungkin dia memiliki bakat menari, sama seperti ibunya.

Melihat Bakat Anak Dari Apa Yang Disenangi

Seorang teman berkomentar pada saya, bahwa masih terlalu dini untuk saya memberi kesimpulan apa bakat anak saya. Tentu saja hal ini benar. Tetapi, saya tidak bisa berhenti untuk mengamati apa yang menjadi kesenangan anak saya, lalu mengaitkan dengan kemungkinan bakat yang dia miliki.

Tentu saja apa yang menjadi kesenangan anak ada andil orang tua dalam mengasuh. Sebagai contoh karena saya memiliki hobi membaca, dan kebetulan di rumah memiliki beberapa sudut ruangan yang saya jadikan tempat buku. Maka anak saya pun menjadi senang dengan buku.

Dalam proses anak senang dengan buku, benar seperti kata teman saya, terlalu dini untuk memberi kesimpulan apakah anak memiliki bakat berkaitan dengan buku. Namun setidaknya, melalui kesenangan anak kita tahu langkah apa yang bisa kita persiapkan dan lakukan agar anak menemukan minat dan memunculkan bakat.

Contoh lain, anak saya senang menari, bukan kebetulan Ibunya bisa menari. Maka dalam berbagai kesempatan, menari bersama anak dan istri adalah kesenangan bersama yang saya rasakan selama menjadi ayah. Dan anak saya memiliki ketertarikan dengan tari, saya mencatat dengan baik, juga sedikit menduga kembali bahwa dia memiliki bakat menari.

Tidak Mendikte Bakat Anak

Salah satu yang saya dan istri saling wanti-wanti adalah untuk jangan sampai sebagai orang tua mendikte bakat anak. Benar, bahwa ada doa dan harapan untuk anak, kita sebagai orang tua bisa melihat baik dan buruk, sudah mengalami pahit manis kehidupan. Tapi, anak memiliki dunia dan hidupnya sendiri.

Dalam satu momen bersama istri, menyaksikan bagaimana anak kami tumbuh, banyak hal baru yang bisa dia kerjakan sekarang, rasanya luar bisa menyenangkan. Anak mampu melakukan apa yang mereka ingin lakukan, dan tentu saja senang tanpa beban.

Kembali pada pertanyaan apa ya bakat anak saya? Mungkin sebagai orang tua saya hanya mampu meraba-raba saja, melihat bagaimana setiap proses eksplorasi yang dilakukan anak. Sampai pada nanti, anak memutuskan apa yang menjadi ketertarikan utama dunianya.

Maka saya dan istri sepakat, untuk memberikan kebebasan beraktivitas, berkreativitas sejak usia dini. Biarkan rasa penasaran, rasa ingin tahu anak terus tumbuh, dalam rasa penasaran itulah kehidupan anak yang sesungguhnya, dan ada bakat yang akan keluar dari dalamnya.

Komunikasi dan Tes Bakat Anak Tidak Ada Salahnya

Jika nanti anak saya sudah cukup usia, dalam artian sudah mampu melakukan komunikasi dan memahami maksud dari komunikasi yang terjadi. Maka pembicaraan perihal apa yang menjadi kesenangan dia akan saya lakukan.

Sederhana saja, seperti apa yang anak suka, apa yang menjadi cita-cita dia nanti, apa hobi dia atau apa yang paling ingin dilakukan. Berbagai kegiatan yang tentu saja muaranya bisa kita tarik menjadi minat anak.

Jika anak sudah mampu memberikan respons terhadap apa yang menjadi kegemaran atau minatnya dalam bidang tertentu. Barulah kita mulai memikirkan langkah mendukung selanjutnya, melakukan tes minat dan bakat kepada anak.

Bagi saya tes bakat anak ini penting, karena kita sebagai orang tua tentu terbatas, walau secara penuh telah mengamati apa yang menjadi kegemaran anak. Tidak ada salahnya kita melakukan tes bakat.

Jika pun hasil dari tes bakat tidak sesuai dengan kecenderungan dari keinginan anak. Ya, semua kembali pada anak, mereka yang nanti akan menentukan. Paling tidak dalam usia tumbuh kembang kita bisa membantu anak, menemani anak, sampai akhirnya dia tahu apa bakat yang masih terpendam dalam dirinya.