Konstruksi sosial masyarakat Indonesia dengan varietasnya terkadang membawa isu rasisme di tengah masyarakatnya. Salah satu hal yang sering menjadi perbincangan adalah pribumi dan pendatang (Tionghoa, Arab, dan India). Etnis Tionghoa sering menjadi perbincangan dalam problematik rasisme. Namun demikian, mereka tetaplah warga Indonesia sehingga baik kiranya jika imaos melihat konstruksi sosial budaya anak lelaki Tionghoa untuk mengenal lebih dekat.

Etnis Tionghoa sendiri sudah ada di Indonesia sejak lama. Bahkan, tidak sedikit dari generasi mereka yang sekarang tidak pernah hidup dan bermukin di dataran China. Namun, terkadang etnis lain masih banyak yang menganggap mereka bukan Indonesia karena wajah mereka yang hampir sama semua dengan warga China.

Faktanya, mereka sebenarnya memiliki perbedaan yang cukup signifikan jika diperhatikan secara seksama. Dalam buku IPS Terpadu karya Supriatna menjelaskan bahwa tiap etnis Tionghoa itu bermacam-macam dan memiliki banyak perbedaan layaknya etnis-etnis yang ada di Indonesia itu sendiri.

Hebatnya, meskipun etnis Tionghoa di Indonesia memiliki integritas dan kepercayaan pada budaya leluhur. Dengan keyakinan tersebut, kebudayaan dari etnis Tionghoa terus diwariskan dari generasi ke generasi. Hanya saja, dalam konsep kebudayaan Tionghoa ini cukup menarik untuk diketahui.

Berdasar dari sebuah hasil penelitian tentang Pandangan Generasi Muda Hakka menjelaskan bahwa anak lelaki memiliki posisi lebih menguntungkan dari anak perempuan. Hal ini karena anak perempuan tidak boleh meneruskan marga dari sang ayah sehingga marga tersebut akan terputus.

Keistimewaan Anak Lelaki Tionghoa Sulung

Keistimewaan anak lelaki sulung dari etnis Tionghoa ini didasari dari sistem kekeluargaan yang mereka yakini. Fakta sejarah menjadi dasar sistem kekeluargaan tersebut. Penelitian tentang Dominasi Anal Laki-Laki Sulung Tionghoa menjelaskan bahwa ada konsep dàzōng dan xiǎozōng.

Konsep dàzōng adalah pemahaman tentang anak sulung lelaki dari permaisuri utama adalah pewaris tahta yang sah untuk menggantikan raja. Mereka diperbolehkan memimpin sembahyang leluhur dan nenek moyang. Konsep xiǎozōng adalah pemahaman tentang adik dari anak sulung dan anak selir raja. Tugas xiǎozōng hanyalah sebagai pangeran di bawah kaisar.

Selain memiliki keistimewaan hak, anak lelaki sulung Tionghoa juga memiliki tanggungjawab yang harus dipikul. Pertama, Anak sulung lelaki harus menjadi pemimpin upacara pemujaan leluhur ayah. Kedua, saat ayahnya meninggal maka ia harus menggantikan ayahnya menjaga abu leluhur mereka dalam rumah. Ketiga, anak sulung lelaki setelah menikah harus tingga bersama ayah dan ibunya untuk merawat mereka sampai meninggal.

Etnis Tionghoa Surabaya Berharap Anak Sulung Lelaki

Konsep kebudayaan dan sistem kekeluargaan yang diyakini oleh etnis Tionghoa ini masih lekat di wilayah Surabaya. Etnis Tionghoa di Surabaya sangat melestarikan warisan budaya leluhur sehingga harapan untuk mendapatkan anak sulung lelaki menjadi doa pertama mereka.

Meskipun etnis Tionghoa yang ada di Surabaya ini sudah banyak mendapatkan kontak sosial dan budaya dengan etnis Jawa dan lainnya, tapi mereka tetap mempertahankannya. Keluarga Tionghoa di sana selalu berharap kehadiran anak pertama atau cucu pertama adalah lelaki.

Hal ini bertujuan untuk melanjutkan tradisi dan kepercayaan yang mereka anut bertahun-tahun lamanya. Tidak peduli dengan perkembangan sosial budaya yang ada, mereka masih bertahan dengan keyakinannya. Oleh karena itu, budaya menghormati warisan leluhur menjadikan etnis Tionghoa ini tak lekang oleh waktu.