Anak yang menderita penyakit epilepsi atau ayan biasanya memiliki sebuah gangguan sistem saraf pusat akibat pola aktivitas listrik otak yang tidak normal. Penyakit ini menimbulkan kejang, sensasi dan perilaku yang tidak biasa, bahkan hingga hilang kesadaran.

Gangguan pada pola aktivitas listrik syaraf otak dapat terjadi karena beberapa faktor. Antara lain kelainan pada jaringan otak, ketidakseimbangan zat kimia di dalam otak, ataupun kombinasi dari faktor-faktor tersebut.

Epilepsi bisa terjadi pada semua usia, baik wanita atau pria. Namun umumnya epilepsi bermula pada usia anak-anak. Pengidap epilepsi umumnya juga rentan terhadap masalah perilaku dan emosi. Contohnya seperti hiperaktif, sulit memperhatikan dan mengendalikan emosi, mudah cemas dan frustrasi, serta masalah sosial.

Epilepsi dan gejalanya memang berpengaruh terhadap perilaku. Akan tetapi, stigma sosial terhadap epilepsi memiliki pengaruh yang lebih besar lagi. Masyarakat Indonesia masih banyak yang menganggap bahwa epilepsi disebabkan kutukan, guna-guna, kerasukan, gangguan jiwa atau penyakit mental.

Stigma sosial terhadap penyakit epilepsi sering membuat anak merasa berbeda dari teman-teman sebayanya. Pada akhirnya, stigma sosial menyebabkan anak mengalami stres, merasa kecewa, tidak percaya diri, hingga depresi.

Gejala epilepsi pun mempengaruhi kondisi emosi. Anak kerap merasakan takut mati, takut kehilangan kendali, serta ketakutan akan hal lainnya yang tidak bisa diprediksi.

Orang tua perlu memberikan penjelasan mengenai kondisi epilepsi pada anak mereka. Berikan penjelasan yang singkat dan mudah dipahami. Semakin anak tumbuh dewasa, orang tua dapat menambahkan penjelasan yang lebih lengkap dan rinci terkait epilepsi. Orang tua juga perlu tahu banyak informasi mengenai epilepsi yang diderita anaknya. Buku dan sumber online bisa dijadikan rujukan untuk menambah pengetahuan orang tua tentang epilepsi.

Informasi yang perlu diketahui anak terkait epilepsi

Hal-hal yang perlu Anda sampaikan tentang epilepsi antara lain:

  • pemicu gejala epilepsi, 
  • apa yang terjadi selama kejang,
  • bagaimana mengelola epilepsi dalam hal pola makan,
  • obat-obatan, gaya hidup dan perawatan medis, serta
  • bagaimana anak Anda dapat memberitahu orang lain tentang epilepsi-nya.

Selain itu, orang tua perlu meyakinkan buah hatinya bahwa kematian karena kejang-kejang saat epilepsi itu sangat jarang. Hal itu penting untuk disampaikan jika anak memiliki perasaan takut mati akibat epilepsi yang dideritanya.

Anak juga perlu perlu didorong untuk mengungkapkan kekhawatiran yang mereka miliki terkait penyakit yang dideritanya. Contohnya seperti apa yang dia rasakan, bagaimana dia bergaul dengan teman-temannya, dsb. Anak juga harus dilatih untuk lebih mandiri dalam mengelola epilepsi, seperti minum obat sendiri, mencari tahu tentang penyakit itu sendiri, dan menghubungi petugas medis saat muncul masalah.

Meski masih banyak beredar stigma buruk mengenai epilepsi, penting juga untuk memberi tahu orang lain tentang kondisi anak Anda. Namun, sebelum Anda memberitahu siapapun di luar keluarga tentang kondisi anak, Anda harus mendiskusikannya dengan sang anak. Pastikan anak mengerti keperluan mengungkapkan kondisinya pada orang lain. 

Libatkan anak Anda dalam memutuskan siapa saja yang boleh mengetahui tentang kondisinya. Memberitahu orang lain, misalnya guru sekolah, akan membuat orang lain itu tahu apa yang harus dilakukan ketika anak Anda kejang. Keterbukaan juga akan membantu membangun kepercayaan diri anak Anda. Merahasiakan kondisinya hanya akan menambah kesan bahwa epilepsi adalah sesuatu yang memalukan.

Referensi:

Emotional Effects of Diagnosis – Frequently Asked Questions. https://www.epilepsy.ie/content/emotional-effects-diagnosis-frequently-asked-questions

Dealing with behavior problems. https://www.epilepsy.com/article/2014/3/dealing-behavior-problems