Apa yang perlu dilakukan ketika anak marah secara berlebihan? Setiap orang pasti pernah marah. Kemarahan adalah emosi yang wajar dan sehat. Namun ada anak yang entah mengapa menghabiskan sebagian besar waktunya dengan marah secara berlebihan.

Anak yang senang marah secara berlebihan biasanya mengalami kesulitan untuk menikmati hidup. Mereka bertengkar saat bermain dengan teman-temannya; mereka bertikai ketika bersenang-senang; dan mereka tidak suka dilarang.

Sikap anak yang temperamental ini tidak bisa diabaikan. Selain merugikan dirinya sendiri, sikap anak yang suka marah secara berlebihan ini juga berpotensi menyusahkan orang tua, bahkan hingga melukai orang lain.

Coba bayangkan. Anda tiba di rumah seusai kerja. Alih-alih disambut dengan pelukan dari anak tersayang, Anda justru harus menangani anak yang berteriak keras, matanya membengkak, dan wajahnya merah membara.

Apalagi jika kejadian ini terjadi 7 kali seminggu. Tentunya orang tua bisa stres dan bingung. Bahkan terkadang banyak orang tua yang malah ikutan marah. Nah, sebelum mulai ikutan marah-marah, ada baiknya Anda mencari tahu terlebih dahulu: mengapa anak marah secara berlebihan?

Mengapa anak marah secara berlebihan?

Banyak anak yang marah secara berlebihan karena ingin diperhatikan. Mereka ingin merasa dipedulikan.

Amarah dan perilaku agresif cenderung terjadi karena terjadinya miskomunikasi. Ketika keinginan anak tidak terpenuhi, ia kerap merasa keinginannya tidak dihargai. Dan kejadian ini seringkali diartikan secara salah oleh anak. Karena keinginannya tidak terpenuhi, anak merasa dirinya tidak berarti dan tidak dihargai.

Anda perlu memahami bahwa apapun yang dikatakan maupun dilakukan anak merupakan bentuk komunikasi. Mereka akan terus mencoba untuk melakukan komunikasi ini agar didengarkan. Ini manusiawi. Jika anak tidak mengungkapkan keinginannya, biasanya mereka akan mengomunikasikan keinginan mereka dengan cara yang berlebihan dari sebelumnya hingga mereka merasa didengarkan.

Ketika anak merasa tidak didengarkan dan terus dipendam, anak bisa menunjukkan perilaku agresif dan marah secara berlebihan. Ekstremnya, bahkan anak bisa sampai memukul, menggigit, menendang, dan perilaku melukai lainnya.

Parahnya lagi, ketika orang tua hanya berusaha untuk menghentikan amarah anak tanpa mencari tahu sebabnya, anak bisa saja meningkatkan amarahnya hingga ke tingkatan yang lebih ekstrem.

Selain mencari tahu alasan kemarahan anak, Anda juga perlu mengidentifikasi: apakah kemarahan anak sesuatu yang wajar? Ataukah itu adalah sesuatu yang mungkin bermasalah?

Membedakan antara kemarahan yang wajar dan yang berlebihan

Perilaku marah yang wajar biasanya ditandai dengan adanya komunikasi yang efektif. Dalam sebuah kemarahan yang wajar, anak biasanya mampu dan mau untuk menjelaskan dan menerangkan pada orang lain mengenai penyebab kemarahannya. Selain itu, ia juga mampu dibujuk untuk menjelaskan apa yang perlu dilakukan agar amarahnya mereda.

Namun dalam situasi tertentu, hal ini bisa jadi sulit terjadi. Terkadang, beberapa anak lebih memilih untuk menjauhi hal yang membuat mereka marah dan memilih untuk mengikhlaskan rasa marahnya.

Contohnya saat anak marah pada gurunya di sekolah. Anak seringkali tidak memiliki kuasa untuk melampiaskan amarahnya secara langsung pada sosok guru. Akhirnya anak memilih untuk membiarkan amarahnya mereda. Perilaku ini adalah sebuah bentuk kedewasaan dan bentuk kemarahan yang wajar. Karena anak mampu memilih kapan wajarnya ia boleh marah.

Di sisi lain, marah yang berlebihan terjadi ketika anak mengganggu hak orang lain dengan melakukan agresi secara verbal maupun fisik. Bahkan kemarahan ini belum tentu reda meski anak sudah melampiaskan agresinya pada orang lain.

Memfasilitasi perilaku marah anak yang berlebihan

Ketika anak marah secara berlebihan, salah satu solusi yang sederhana adalah dengan menyalurkan amarahnya. Biasanya banyak orang tua yang melakukannya dengan 3 cara sederhana.

  1. Tawarkan anak suatu benda yang aman untuk ditendang, dipukul, atau digigit agar amarahnya terlampiaskan. Karena daripada menahan dan membiarkan anak memendam amarah yang mungkin akan meledak lagi suatu hari, lebih baik menyalurkannya.
  2. Tawarkan anak ruangan atau bantal untuk berteriak. Konsepnya sama dengan poin sebelumnya, yakni untuk menyalurkan energi anak tanpa mengganggu orang lain.
  3. Tawarkan anak pilihan yang mampu membantu anak mengontrol emosinya. Tawarkan opsi apapun selama hal itu ada dalam batasan yang Anda tentukan selaku orang tua. Ajak anak untuk berpikir bersama mengenai hal apa yang bisa dilakukan untuk meredakan amarahnya.

Menolong anak untuk mengatasi amarahnya merupakan kemampuan yang sangat penting dan berharga untuk dimiliki orang tua. Bantu anak untuk memahami cara marah yang wajar dan baik tanpa perlu berlebihan.

Referensi

Cunningham, B. (2019, November 22). Why Is My Child So Angry? Diambil kembali dari Understood.org

Morin, A. (2019, September 30). 5 Signs You’re Raising an Angry Child. Diambil kembali dari Verywell Family

Tamm, L. (2017, Juni 26). What’s Behind Angry and Aggressive Behaviors in Kids? Diambil kembali dari The Military Wife and Mom

Whitson, S. (2017, Agustus 8). How to Help Kids Manage Anger. Diambil kembali dari Psychology Today