Merawat bayi yang diare ternyata bisa dilakukan tanpa pemberian obat. Bayi yang baru lahir, terutama yang masih mengonsumsi ASI eksklusif, biasanya wajar mengeluarkan kotoran yang lembek dan encer. Kadang hal ini membuat banyak orang tua kebingungan. Apakah bayi dalam kondisi sehat?

Sebenarnya sangat wajar bagi bayi yang masih mengonsumsi ASI mengeluarkan tinja yang berwarna kekuningan, bertekstur lembut, dan encer. Bayi yang baru lahir biasanya bisa buang air besar sampai lima kali sehari. Bahkan bayi bisa langsung buang air besar sesaat setelah disusui. Setelah usianya melewati satu bulan, frekuensi buang air besar bayi mulai menurun. Bayi bisa buang air besar satu sampai dua kali sehari.

Sebenarnya agak sulit untuk merawat dan mendeteksi diare pada bayi hanya dengan melihat tekstur kotorannya. Namun Fams dapat mendeteksi tanda-tanda diare dari perubahan frekuensi buang air besarnya. Misalnya, bayi tiba-tiba menjadi jauh lebih sering buang air besar dengan jumlah yang banyak.

Selain itu, diare juga dapat ditandai dengan kondisi bayi yang tampak lemas. Tinja yang berubah jauh lebih lunak atau lebih encer dari biasanya juga bisa menjadi tanda-tanda bayi mengalami diare.

Saat bayi tampak menunjukkan gejala diare, Fams bisa menanganinya dengan cara-cara seperti berikut.

1. Hindari pemberian obat antidiare

merawat bayi diare tanpa obat

Saat bayi terkena diare, penting untuk merawat dengan tepat. Shaista Safder, seorang ahli gastroenterologi anak, menyarankan untuk tidak memberikan obat antidiare pada bayi. Pemberian obat antidiare pada bayi dikhawatirkan dapat membuat kondisinya justru semakin parah. Obat jenis ini baru boleh diberikan apabila anak sudah berusia 12 tahun ke atas.

2. Merawat diare bayi dengan memenuhi kebutuhan cairan bayi

Menurut Rebecca Cherry, seorang ahli gastroenterologi anak di Rumah Sakit Anak Rady, San Diego, bayi yang terkena diare sangat rentan mengalami dehidrasi. Artinya, bayi kehilangan cairan lebih cepat daripada anak-anak yang usianya lebih tua. Oleh karena itu, penting bagi ibu untuk lebih sering menyusui bayinya. Usahakan untuk tidak memberikan asupan cairan selain ASI tanpa saran dari dokter. Memberikan asupan cairan selain ASI dikhawatirkan dapat membuat merawat diare bayi semakin parah. 

3. Berikan makanan sehat

merawat bayi diare dengan makanan sehat

Jika anak sudah mampu mengonsumsi makanan pendamping ASI, Fams dapat memberikan makanan yang berprotein tinggi dan rendah lemak, seperti daging ayam tanpa kulit, oatmeal, atau roti gandum. Menurut dokter Safder, konsumsi yogurt juga bisa membantu merawat diare pada bayi, karena yogurt mengandung probiotik. 

Probiotik adalah mikroorganisme hidup berupa bakteri atau jamur baik. Probiotik dapat melindungi dan memelihara kesehatan sistem pencernaan, terutama lambung dan usus, dari berbagai macam serangan penyakit.

4. Ganti popok lebih sering ketika merawat bayi yang diare

Mengganti popok tentu harus dilakukan, karena bayi akan lebih sering buang air besar. Selain itu, mengganti popok secara teratur akan mencegah bayi mengalami iritasi yang diakibatkan oleh zat asam yang terdapat dalam kotoran. Selain itu, jangan lupa mengelap tubuh bagian bawah bayi sampai bersih dan kering. Jika perlu oleskan salep anti-iritasi setiap mengganti popok untuk menjaga kelembaban kulit bayi.

5. Hubungi dokter jika semakin parah

merawat bayi diare hubungi dokter

Umumnya, merawat diare pada bayi Anda bisa berlangsung selama 5 hingga 14 hari. Durasi ini terbilang normal. Namun Anda harus waspada jika bayi menunjukkan tanda-tanda sebagai berikut:

  • Dehidrasi semakin parah. Dehidrasi yang semakin parah dapat ditandai dengan mata cekung, fisik lemah, bibir kering dan pecah-pecah, tidak keluar air mata ketika menangis, jarang buang air kecil, urine berwarna lebih gelap dan bau daripada biasanya, tidak mau makan atau minum, serta gelisah atau rewel. 
  • Muncul lendir dan bau busuk pada kotoran.
  • Kotoran bercampur dengan darah.
  • Demam tinggi.

Jika Fams mendapati gejala-gejala seperti yang telah disebutkan di atas, segera hubungi dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. 

Referensi:

Moninger, Jeannette.______. Your Baby’s Diarrhea.